Usai makan siang di Empal Gentong Amarta, rencananya kami akan melanjutkan perjalanan menuju Batik Trusmi yang merupakan gerai batik terbesar di Indonesia.
Rencana tidak berjalan mulus, sebab awan gelap yang menggantung sedari tadi kini telah mengucurkan air dengan deras.
Batik Trusmi berada di Jalan Trusmi Kulon, Plered, jaraknya hanya sekitar kurang lebih 1,5 kilometer dari Empal Gentong Amarta. Tapi berhubung Jalan Djuanda saat itu sangat macet, membuat saya memilih jalan alternatif yang justru membuat perjalanan ini lebih lama sebab kami harus melewati gang, mendapati jalan yang tergenang air sehingga harus kembali ke Jalan Djuanda, hadeh.

Akhirnya kami pun tiba di Batik Trusmi, setelah memarkirkan motor kami langsung masuk ke dalamnya. Seorang petugas langsung memberi troli kecil kepada istri saya, padahal belum tentu kami datang untuk berbelanja. Hohoho…
Batik Trusmi memiliki luas mencapai 1,5 hektar yang menjadikannya sebagai toko batik terbesar dan terluas di Indonesia.
Batik Trusmi Surganya Belanja Batik di Cirebon
Batik Trusmi telah berdiri sejak 2011, memiliki tema One Stop Shopping alias semuanya ada. Selain batik khas Cirebon, disini juga tersedia aneka kerajinan tangan, oleh – oleh kuliner, permainan anak – anak sampai pijat refleksi juga ada. Lengkap banget pokoknya.



Begitu masuk ke dalam toko, berbagai baju batik terpajang di sekeliling pintu masuk. Dijamin siapa pun yang datang terutama kaum perempuan akan “lapar mata” melihat banyak baju batik cantik – cantik, begitu pun istri saya yang langsung menggiring saya ke gerai batik ekslusif yang dijual terbatas, disini pengunjung tidak boleh memotret untuk menjaga keotentikan. Harga baju batik dan kain batik yang ada di gerai khusus ini bisa bikin kami tidak makan seminggu bahkan dua minggu.

Keluar dari gerai khusus, perasaan saya sedikit lega karena istri tidak tertarik untuk membelinya atau dia sangat pengertian dengan kondisi keuangan kami.
Kami terus menjelajahi toko Batik Trusmi ini. Disini jika kita jeli untuk memilih, banyak barang – barang bagus dengan harga murah yang ditawarkan. Misalnya baju daster batik yang dibanderol dengan harga mulai dari Rp 25 ribu, atau batik untuk laki – laki dengan harga mulai dari Rp 30 ribu.

Setelah muter – muter kesana kemari akhirnya istri saya memilih dua baju daster dengan motif batik yang terang dengan harga yang terbilang terjangkau namun punya kualitas yang oke punya.
“bang, gag mau beli batik, beli aja lah, kan dipakai buat kerja” kata istri saya
(“duh dek, kan kesini niatnya cuma cuci mata sekalian cari bahan buat artikel”) gumam saya dalam hati
“ayolah bang, kan batik abang belum banyak, itu – itu aja”
Belanja di Batik Trusmi
Saya pun takluk, saya mencari – cari batik yang sekiranya pas harganya dan pas kualitasnya. Dan hasilnya saya mendapatkan kemeja batik dengan motif mega mendung unyu, sebab gambar awannya kecil – kecil.

Setelah mendapatkan batik yang kami mau, kami menuju ke bagian kasir. Meski telah membuat meja kasir yang cukup banyak namun karena sedang masa liburan, antrian tidak dapat dihindarkan, lebih – lebih lagi ada ibu – ibu yang bawa rombongan yang serobot sana serobot sini.
Usai membayar belanjaan, kasir memberi kami voucher potongan harga tiket masuk Museum Trupark yang juga menjadi bagian dari Batik Trusmi. Di Museum Trupark ini pengunjung bisa berfoto di berbagai spot cantik, belajar membatik, belajar mengenai sejarah Desa Trusmi dan banyak lagi aktivitas yang bisa dilakukan disini. Sayangnya, hari telah berganti malam, jadi kami tidak sempat untuk masuk ke dalam museum, mungkin next time ya.