Malam datang begitu cepat. Tak terasa sudah seharian penuh kami menjelajahi kuliner di Kota Bandung. Di malam ini, kami hendak mencari cemilan saja ketimbang harus makan berat. Perut masih terisi penuh dengan batagor Haji Isan.
Baca juga : Batagor Haji Isan
Dari Jalan Bojongloa, kami menuju Jalan Cihapit dimana kedai Surabi Cihapit berada, tepatnya di depan Toko Djitu.
Surabi Cihapit ini sudah eksis sejak 1991, sejak saat itu pula ia mangkal di lokasi yang sama seperti saat ini dan tidak membuka cabang dimanapun.

Saya menyukai kudapan yang terbuat dari bahan dasar tepung beras dicampur tepung terigu dan parutan kelapa ini sedari kecil.
Biasanya saya mendapatkan surabi usai menemani mama berbelanja di pasar. Saya suka sekali melihat ibu penjualnya saat membuat surabi menggunakan wajan kecil yang terbuat dari tanah liat. Api yang digunakan berasal dari kayu bakar. Benar – benar tradisional.
Saat ini surabi telah mengikuti perkembangan zaman. Ia telah dimodifikasi dengan mencampur berbagai varian rasa mengikuti selera pasar.
Tapi biar bagaimanapun surabi tradisional tetap akan dicari oleh para penggemarnya. Saya pun demikian, meski surabi sudah punya banyak rasa, tetap yang saya cari adalah surabi kinca. Pernah dengan kata kinca? Kinca adalah sebutan untuk kuah surabi yang terbuat dari santan dan gula merah.
Saat tiba di lokasi, kami bertemu dengan Farhan bersama rekannya. Mereka adalah mahasiswa dari Jogja yang sedang hunting kuliner di Bandung. Dengan kamera mirrorless-nya mereka memotret surabi pesanannya.
Kami sempat mengobrol sesaat, berbincang mengenai tujuan ke Bandung yang relatif sama. Sama – sama menjelajahi kulinernya.
Back to the topic
Surabi Cihapit memiliki variasi menu tradisional, asin dan manis. Menu tradisional merupakan surabi klasik diantaranya Surabi Oncom, Surabi Kinca dan Surabi Polos.
Menu asin seperti surabi telor, surabi sosis, surabi ayam keju. Sedangkan menu manisnya diantaranya Surabi Keju Susu, Surabi Coklat, Surabi Pisang dan banyak lagi. Untuk harganya mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 13.000.

Disini kami memesan tiga menu sekaligus yakni surabi kinca, surabi keju susu dan surabi oncom telur. Meski proses pembuatannya terlihat sederhana namun rasa yang dihasilkan luar biasa enak di lidah.

Surabi originalnya benar – benar enak, gurih dari parutan kelapanya begitu terasa, kuah kincanya pas, tak terlalu manis.
Berlanjut ke Surabi Oncom Telur-nya, lembutnya surabi berpaduan dengan rasa asin pedas dari oncom dan gurihnya telur menjadi satu , bikin lidah jatuh cinta pada suapan pertama.
Mengikuti perkembangan zaman atau mempersingkat waktu untuk membuat surabi sepertinya menjadi alasan mengapa kedai ini tak lagi menggunakan wajan dari tanah liat dan api dari kayu bakar. Kini ia telah menggunakan wajan alumunium dengan kompor gas. Meski demikian, untuk cita rasanya masih terjaga.

Waktu Operasional
Surabi Cihapit buka sejak pukul 06.00 – 13.00 WIB dan kembali buka pada sore hari pukul 15.00 – 22.00 WIB di halaman Toko Djitu.
Alamat
Baca juga tulisan kami saat Jelajah Kuliner Bandung lainnya