(+62) 897-7257-136 contact@triptofun.id

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Birth Date*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.
Please agree to all the terms and conditions before proceeding to the next step

Already a member?

Login
(+62) 897-7257-136 contact@triptofun.id

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Birth Date*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.
Please agree to all the terms and conditions before proceeding to the next step

Already a member?

Login

Local Reward Chubb General Insurance Mid Year 2018, Jalan – jalan ke Belitung

wisata_ke_belitung

Pada awal November 2018 yang basah, kami kembali mendapatkan kepercayaan dari Chubb General Insurance untuk mengadakan tour yang merupakan local reward yang diberikan kepada Staff Telemarketing terbaiknya. Ini adalah ketiga kalinya kami diamanahi oleh Chubb, sebelumnya kami pernah mengunjungi Padang – Bukittinggi di akhir November 2017, kemudian Lombok pada April 2018. Dan untuk local reward kali ini, kami akan jalan – jalan ke Belitung.

Menuju Belitung

Mulai dari jam 04.30, kami telah berkumpul dan menunggu rekan – rekan yang ikut serta di Bandara Soekarno Hatta Terminal Keberangkatan 1C. Malam sebelumnya kami telah melakukan web check in sehingga ga perlu antri untuk check in lagi di bandara kecuali bagi mereka yang membawa bagasi.

Kami menuju Belitung dengan pesawat Batik Air ID 6826 dengan jadwal keberangkatan pada pukul 06.45 WIB. Alhamdulillah, pesawat terbang pada waktu yang tepat. Langit Jakarta dan sekitarnya nampak mendung tatkala kami mulai terbang menuju Tanjung Pandan.

45 menit penerbangan, kami tiba di Bandara HAS Hanandjoeddin Tanjung Pandan, Belitung. Menjejaki tanah Belitung, kami langsung foto – foto dulu sebelum memasuki terminal kedatangan.

Foto pertama usai keluar dari pesawat

Di depan pengambilan bagasi, ada photo booth sederhana yang digunakan untuk berfoto bagi wisatawan yang berkunjung ke Belitung. Sembari menunggu bagasi tiba, kami manfaatkan untuk berfoto bersama di photo booth ini.

Setelah semuanya menerima bagasi, selanjutnya kami keluar dari bandara. Di pintu kedatangan, Pak Antek dan Bang Keling, dua driver kami selama di Belitung telah siap menjemput.

Mie Belitung Atep

Dari Bandara HAS Hanandjoeddin kami menuju ke pusat kota Tanjung Pandan tepatnya ke kedai Mie Belitung Atep yang berada di Jalan Sriwijaya No.27, lokasinya hanya sepelemparan batu dari Bundaran Satam.

Kami datang kesini untuk menyantap sarapan pagi, sebab karena pergi dengan pesawat pagi tentunya kami belum sarapan.

Mie Belitung merupakan perpaduan antara mie kuning yang disiram kuah udang dan ditaburi bakwan udang, irisan timun, potongan kentang rebus, udang rebus, emping melinjo dan toge. Rasa yang paling menonjol dari Mie Belitung berasal dari kuahnya yang dibuat dari rebusan udang, gula aren, bumbu merica, laos dan daun salam. Kuahnya kental dan memiliki cita rasa yang khas.

Sarapan Mie Belitung Atep

Selain Mie Belitung, disini kami juga mencoba es jeruk kunci, rasanya asam manis, menyegarkan. Cocok diminum di Pulau Belitung yang memiliki hawa cukup panas.

Danau Kaolin

Setelah sarapan di Mie Belitung Atep, selanjutnya kami menuju Danau Kaolin yang berjarak sekitar 6 kilometer. Hanya dalam waktu 10 menit berkendara, kami telah tiba di danau yang sebenarnya merupakan lubang galian tambang kaolin.

Tahu kaolin? Kaolin merupakan tanah liat berwarna putih yang tersusun dari material lempung yang mempunyai kandungan besi yang rendah. Ia digunakan sebagai obat diare dan peradangan kulit.

Foto bersama di Danau Kaolin

Tidak seperti biasanya, hari itu warna air di Danau Kaolin tidak biru melainkan hijau toska karena malam sebelumnya ia baru saja diguyur hujan. Cuaca mendung serta awan yang menggantung juga membuat danau kaolin kurang menarik. Di kala cerah, pasir putih kaolin ini akan terlihat begitu terang dan bak salju.

Eksplore Belitung Timur

Kami tidak berlama – lama di Danau Kaolin, usai berfoto bersama kami melanjutnya perjalanan untuk mengeksplore Belitung Timur.

Obyek wisata Belitung Timur yang kami kunjungi pertama kali ialah Replika SD Muhammadiyah Gantong,yang berjarak sekitar 60 kilometer dan ditempuh dalam waktu 1,5 jam perjalanan.

Tiba di lokasi tujuan, langit terlihat hitam dengan gumpalan – gumpalan awan yang menggantung menjadi pertanda akan segera hujan. Benar saja, ketika hendak mendekati bangunan replika SD tempat Laskar Pelangi menimba ilmu itu, hujan turun lebat. Membuat kami berteduh di warung yang ada di sekitar sana.

Hujan pun reda, kami mendekati bangunan replika yang terdiri dari dua ruang kelas serta dua batang kayu penyangga. Di salah satu ruang, ada anak – anak yang asik duduk di kursinya masing – masing. Nampaknya mereka sudah akrab dengan kedatangan wisatawan, mereka mudah diajak bicara apalagi diajak berfoto dan bernyanyi. Di atas “meja guru” tersedia kotak kecil untuk menaruh uang sumbangan.

Anak – anak di dalam kelas ini mengingatkan saya kepada anak – anak yang ada di Bukit Merese Lombok. Tapi bedanya anak – anak di Bukit Merese, mereka kerja lebih ekstra. Mereka adalah para fotografer yang handal mengambil foto dengan angle – angle yang luar biasa. Mereka berharap jasanya digunakan oleh wisatawan yang mengunjungi Bukit Merese, upahnya seikhlasnya saja.

Keluar dari ruang kelas, kami bersama berdiri di depan Replika SD Muhammadiyah Gantong lalu berfoto dan kembali ke minibus untuk melanjutkan perjalanan.

Berdiri di depan Replika SD Muhammadiyah Gantong

Sekitar 2 kilometer dari Replika SD Muhammadiyah Gantong, ada obyek wisata Museum Kata Andrea Hirata yang merupakan museum literatur pertama di Indonesia. Kami tidak singgah disini sebab untuk masuk ke dalamnya, pengunjung diharuskan membeli buku saku Laskar Pelangi atau CD berisikan lagu yang menjadi OST Laskar Pelangi seharga Rp 50.000.

350 meter dari Museum Kata Andrea Hirata, ada Kampong Ahok. Kami hanya singgah sesaat saja disini karena hujan kembali turun.

Foto sebentar karena setelah itu turun hujan

Selanjutnya, kami menuju Manggar, Ibukota Kabupaten Belitung Timur. Manggar berjarak sekitar 18 kilometer dari Gantong. Jadi jauh juga jarak yang harus ditempuh oleh Ikal dan kawan – kawannya hanya untuk membeli kapur.

Kota kecil ini dijuluki sebagai Negeri 1001 warung kopi, karena banyaknya warung kopi disini. Tujuan kami ke Manggar ialah singgah di Restoran Fega untuk makan siang. Restoran ini berada dekat dengan tugu 1001 Warung Kopi.

Makan siang di rumah makan Fega Manggar

Usai Ishoma, kami melanjutkan perjalanan ke Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Belitung Timur. Ini merupakan sesuatu yang unik, sebab kantor pemerintahan yang dimata orang awam begitu kaku dan membosankan ternyata bisa menjadi obyek wisata.

Tiba di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Belitung Timur, kami disambut oleh Fadli. Ia adalah salah satu finalis duta pariwisata Kabupaten Belitung Timur yang kini menjadi salah satu petugas yang memandu wisatawan yang berkunjung kesini.

Mengunjungi Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Belitung Timur

Tour pertama di kantor dinas ini dimulai dari pengenalan Timah yang bentuknya seperti pasir pada umumnya namun memiliki massa yang lebih berat. Kemudian kami diajak ke bagian tengah kantor dimana ada Bon – bon yang merupakan seekor buaya muara dan Mon – mon, tarsius Belitung yang oleh orang Belitung disebut Pelilean.

Setelah mengeksplore kantor dinas, kemudian kami diajak ke tourist information yang gedungnya berada di sebelah kantor dinas. Disini pengunjung bisa berpose tiga dimensi dengan latar obyek wisata yang ada di Kabupaten Belitung Timur seperti Pantai Burung Mandi, Tambang Pit dll.

Foto bersama di depan kantor dinas pariwisata dan budaya Kabupaten Belitung Timur

Kunjungan kami diakhiri dengan foto bersama di depan kantor dinas. Selanjutnya kami menuju Pantai Burung Mandi, untuk menikmati suasana sore dengan semilir angin pantai yang menyejukkan.

Makan Malam di Kampong Belitung Timpok Duluk

Malam telah menyelimuti ketika kami tiba di Kota Tanjung Pandan. Sebelum ke hotel, kami makan malam terlebih dahulu di Kampong Belitung Timpok Duluk yang ada di Jalan Pilang, Dukong Tanjung Pandan.

Kampong Belitung Timpok Duluk ini merupakan cabang dari Timpok Duluk yang ada di Jalan Lettu Mad Daud. Disini terdapat dua rumah panggung berukuran besar yang bisa menampung banyak orang. Makanan yang disini dihidangkan dalam dulang yang ditutupi oleh penutup berbentuk setengah lingkaran berwarna – warni.

Isi dalam dulang itu berupa makanan khas Belitung diantaranya sate ikan, gangan ikan, ayam gulai dan lalapan. Soal rasa so so lah, yang uniknya itu di penyajiannya.

Beragam jenis makanan khas Belitung yang ada di dalam dulang

Kampong Belitung Timpok Duluk juga menyediakan live music bagi pengunjung yang ingin bernyanyi.

Makan malam usai, kami pun menuju Hotel Golden Tulip Essential tempat dimana kami akan istirahat.

Jelajah Pulau Eksotis di Utara Belitung

Hari kedua Tour Belitung dimulai dari Hotel Golden Tulip Essential menuju Pantai Tanjung Kelayang yang merupakan titik temu bagi wisatawan yang ingin hoping island mengunjungi pulau – pulau kecil eksotis yang ada di sisi utara Pulau Belitung.

Foto – foto dulu sebelum naik ke kapal

Sebelum naik ke kapal kami mengenakan jaket pelampung untuk keselamatan selama berlayar di laut. Pulau pertama yang kami kunjungi ialah Pulau Batu Garuda, disini kapal tidak menepi melainkan hanya menahan posisi yang pas agar kami bisa berfoto dengan latar pulau yang memiliki batu menyerupai kepala burung garuda.

Foto dengan latar Pulau Batu Garuda

Kemudian, kami hendak ke Pulau Pasir yang sebenarnya hanyalah sebuah gosong atau pasir putih yang muncul ke atas permukaan air laut hanya pada saat surut. Sayangnya ketika itu air laut sedang pasang jadi kami meneruskan perjalanan ke Pulau Lengkuas.

Pulau Lengkuas merupakan pulau tereksotis diantara pulau lainnya. Pasirnya putih dan halus, air lautnya jernih, terumbu karang yang berada di sekitarnya dalam kondisi baik dan ditambah adanya mercusuar peninggalan Belanda yang membuat pulau ini kian cantik.

Pulau Lengkuas dengan mercusuarnya

Dulu wisatawan boleh masuk dan menaiki tangga hingga ke puncak mercusuar, tapi kini tidak lagi. Jadinya kami nikmati dengan cara lain seperti bermain diantara batu – batu granit yang banyak berserakan di sekitar pantai atau berlari – lari di tepi pantai bersama rekan – rekan.

ga boleh masuk lagi ke mercusuar, main di batu – batu sekitar pantai juga asik

Tengah hari, kami beranjak dari Pulau Lengkuas menuju Pulau Kepayang. Hanya 15 menit berlayar, kami telah tiba di Pulau Kepayang yang merupakan pulau terluas dibandingkan pulau – pulau lainnya. Tujuan kami kesini ialah untuk makan siang.

Makan siang di pulau tentunya hidangan kami serba sea food diantara ikan kue bakar yang dimasak dengan dua bumbu yakni bumbu rempah dan kecap. Gangan ikan ketarap, cumi goreng tepung, sate udang. Untuk sayurnya ada tumis kangkung. Pokoknya makan siang di Pulau Kepayang recommended banget lah!

Menu makan siang di Pulau Kepayang

Usai makan siang kami menuju Pulau Batu Berlayar yang sayangnya tidak bisa kami kunjungi karena air laut masih pasang. Akhirnya kami putuskan untuk kembali ke Pantai Tanjung Kelayang.

Dari Pantai Tanjung Kelayang kami menuju Pantai Tanjung Tinggi yang berjarak sekitar 7 kilometer dan ditempuh dalam waktu 10 menit saja.

Pantai Tanjung Tinggi mulai dikenal oleh khalayak ramai sejak ia menjadi latar film Laskar Pelangi pada tahun 2008 silam. Sejak saat itu banyak wisatawan yang berdatangan mengunjungi pantai ini. Pantai Tanjung Tinggi juga merupakan tempat yang asik untuk menghabiskan waktu sore sembari menyaksikan matahari terbenam di ufuk barat.

Plakat di Pantai Tanjung Tinggi untuk mengenang bahwa di pantai inilah salah satu adegan dalam film Laskar Pelangi diambil

Menjelang malam, kami kembali ke Tanjung Pandang. Mengunjungi toko oleh – oleh dan makan malam di Restoran Dynasti dengan menu Kepiting Saos Padang dan Ketam Isi Goreng. Enak banget makan malam kali ini. Setelah itu kembali ke hotel untuk beristirahat.

Menu makan malam di Restoran Dynasti Tanjung Pandan

Hari Ketiga, Kembali ke Jakarta

Hari ketiga agendanya santai, sarapan di hotel, leyeh – leyeh di kamar sampai jam 10 untuk check out. Jam 10.30 kami telah meninggalkan hotel untuk menuju Bandara HAS Hanandjoeddin. Karena kami terbang pada jam 13.10 sehingga waktu yang kami punya masih cukup banyak, kami singgah terlebih dahulu di Café Hanggar Hotel.

Café ini menyediakan berbagai menu khas Belitung dan tentunya kopi Belitung  yang khas itu.

Mendekati waktu penerbangan kami lanjut lagi ke bandara, antri melaporkan bagasi kemudian masuk ke ruang tunggu. Dan pesawat Sriwijaya SJ 055 pun membawa kami kembali ke Jakarta dengan selamat. Alhamdulillah. https://best-ghostwriter.com/bachelorarbeit-schreiben.

Leave a Reply