Pengalaman Mengikuti Paket Tour Korea, Enak Ga Sih ?

ikutan paket tour korea

Korea, terutama Korea Selatan. Saat ini menjadi salah satu negara asia favorit selain Jepang yang banyak dikunjungi oleh wisatawan dari Indonesia. Bahkan kata Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Kim Chang Beom. Wisatawan Indonesia yang ke negaranya menempati jumlah tertinggi di Asia Pasifik.

Tiap tahunnya terjadi kenaikan jumlah wisawatan Indonesia yang melancong ke Korea Selatan. Di tahun 2017 saja sudah mencapai lebih dari 200 ribu orang. Di tahun 2018, Korea Tourism Organization menargetkan 265 ribu wisatawan Indonesia yang ke Korea.

Potensi pasar yang besar ini membuat banyak Travel Agent berlomba – lomba menawarkan Paket Tour Korea kepada calon konsumennya.

Saya cukup banyak memfollow sosial media Travel Agent besar, dari sini saya bisa tahu berapa harga Paket Tour Korea.

Paket Tour Korea 5 Hari 3 Malam adalah yang paling laku bagi wisatawan Indonesia. Harga paket ini mulai dari Rp 8,5 juta, dimana sudah termasuk dengan tiket pesawat Jakarta – Incheon Seoul PP menggunakan pesawat high class seperti Garuda Indonesia, Asiana Airlines dan Korean Air. Harganya murah banget bukan? Coba anda sendiri mencari tiket pesawat dengan tujuan yang sama, harga segitu tuh cuma dapat tiket doang lho! Kecuali anda memilih Air Asia ya, tapi itu kan ga apple to apple.

Harga tiket pesawat Jakarta – Incheon Seoul Korea Selatan PP

Oh ya, harga Paket Tour Korea yang ditawarkan tersebut belum termasuk Visa Korea ya. Anda bisa mengurusnya sendiri atau dengan bantuan travel agent tempat dimana anda membeli paket tour ini.

Di penghujung 2016, saya dinobatkan sebagai penulis terbaik di salah satu media massa online ternama. Hadiah yang saya dapatkan adalah mengikuti Tour Korea selama 5 hari 3 malam secara gratis, kecuali visa.

Ternyata saya diikutsertakan kedalam kelompok wisatawan yang tergabung dalam group Tour Korea yang diadakan oleh Travel Agent ternama di Jakarta.

Sebelum berangkat, saya dikirimkan email mengenai Tour Korea ini lengkap dengan itinerary-nya.

Tujuan utama Paket Tour Korea yang saya ikuti adalah Everland, Nami Island dan Mount Seorak.

Penasaran dengan kelanjutan ceritanya, yuk lah dibaca lagi sampai habis ya.

Hari Pertama (Penerbangan Jakarta – Incheon Seoul)

Malam hari berkumpul di Bandara Soekarno Hatta dengan peserta yang lain. Koper bagasi diurus dengan baik oleh pihak travel agent.

Di Bandara Soekarno Hatta, koper para peserta tour dikumpulkan jadi satu. Nanti diatur oleh pihak travel agent

Kemudian pemeriksaan imigrasi yang antriannya lumayan panjang. Tapi tanpa ada kendala berarti. Paling menyebalkan adalah melihat orang – orang yang sibuk selfie, bikin video singkat buat snapgram. Padahal tindakan tersebut terlarang di Imigrasi.

Oh ya, pesawat yang digunakan untuk penerbangan Jakarta – Incheon ini adalah Garuda Indonesia yang memiliki jadwal keberangkatan pada 23.10 WIB

Ya, mepet sama pergantian hari. Tapi sama Travel Agent sudah dimasukin hari tour. Jadi seolah – olah tournya itu berlangsung lama. Lima hari coy ! hahaha.. Tapi memang penerbangan yang langsung ke Korea dari Jakarta adanya di malam hari sih. Jadi benar juga mereka ya.

POI : Anda akan menggunakan Pesawat berkelas, penerbangan langsung Jakarta – Incheon tanpa transit

Penerbangan Jakarta Korea memakan waktu sekitar 7 jam. Setelah mendapatkan makan malam, nonton hiburan di layar, saya putuskan untuk tidur.

Hari Kedua (National Folklore Museum, Gyeongbokgung Palace, dan Nami Island)

Setelah berada di udara selama 7 jam, akhirnya jam 08.30 Waktu Korea (lebih awal 2 jam daripada Jakarta) kami tiba di Bandara Incheon.

Tiba di Bandara Incheon, disambut oleh tour guide Korea yang bisa bicara bahasa Indonesia

Waktu itu musim semi, suhu udara sekitar 4 derajat celcius. Cukup dingin bagi orang yang biasa tinggal di wilayah tropis. Pantas saja para peserta sudah memakai baju dingin sebelum keberangkatan. Kalau saya hanya mengandalkan jaket polar merek lokal saja.

Setelah pemeriksaan imigrasi dan mengambil bagasi, kami pun keluar dari bandara dan disambut oleh Tour Guide. Namanya Alex (bukan nama sebenarnya, karena mana ada orang Korea punya nama begini). Dia orang Korea, tapi cukup fasih berbicara dalam Bahasa Indonesia. Rupanya dia pernah mengambil kursus bahasa Indonesia di Bandung selama dua tahun. Niat banget ya!

POI : Tour Guide anda selama menjelajahi Korea adalah orang Korea yang fasih berbahasa Indonesia.

Setelah ramah tamah sebentar, kami naik ke bus yang telah tersedia.

Kalau dari dilihat dari itinerary-nya, harusnya hari pertama di Korea ini saya akan mengunjungi Kimchi Making School + Hanbok Wearing dan Nami Island.

Tapi ternyata dari Bandara Incheon kami langsung dibawa menuju National Folklore Museum lalu Gyeongbok Palace yang harusnya adalah agenda di hari keempat.

POI : Itinerary Bisa Berubah Menyesuaikan Situasi dan Kondisi

National Folklore Museum berisikan tentang sejarah Korea dari masa ke masa. Saya hanya mengambil satu point sejarah saja yaitu ketika usai berperang melawan penjajahan namun justru korea terbelah menjadi dua hingga saat ini yaitu Korea Utara dan Korea Selatan. Kami tidak begitu lama di museum ini, tour guide mengajak kami ke tempat selanjutnya yaitu Gyeongbok Palace.

Timeline sejarah Korea dari masa ke masa

Gyeongbok Palace adalah salah satu dari lima istana besar yang dibangun oleh Dinasti Joseon, didirikan tahun 1394 oleh Jeong do Jeon. Istana ini begitu populer di kalangan wisatawan. Banyak diantara mereka yang kesini menggunakan baju khas Korea yang biasa disebut Hanbook.

Foto dengan latar Gyeonbokgung Palace

Karena padatnya agenda di hari pertama ini, saya tidak begitu menikmati suasana di Istana Gyeongbok. Lagi asik – asiknya foto, tour guide telah memanggil untuk segera kembali ke bus.

POI : Ikut paket tour, waktu yang tersedia terbatas namun agendanya padat. Jadi harap maklum

Selanjutnya kami diajak untuk makan siang. Lokasinya berada di basement gedung (saya ga tahu nama gedungnya). Menu makan siang pertama kami di Korea adalah shabu – shabu. Cocok banget disantap di tengah udara dingin.

Menu makan siang di hari pertama

Usai makan siang, kami menuju destinasi selanjutnya yaitu Nami Island. Dari Seoul kita Nami Island membutuhkan waktu lebih dari 2 jam.

Sepanjang jalan menuju Nami Island diiringi dengan rintik hujan. Adem bener, jadinya tidur aja lah.

Bus sempat berhenti di rest area untuk mempersilahkan kami untuk buang air kecil. Di rest area ini juga ada mini market, lumayan buat beli cemilan.

Hari telah memasuki sore ketika kami tiba di loket menuju Nami Island. Kami gag perlu ikutan antrian panjang untuk membeli tiket. Alex sudah mengaturnya dengan baik.

Nami Island adalah nama sebuah pulau buatan yang berada di tengah sungai. Dilihat dari atas, pulau ini memiliki bentuk setengah lingkaran. Untuk kesana, wisatawan harus menggunakan kapal ferri. Jadi tiket masuk ke Nami Island sudah termasuk dengan antar jemput dengan kapal.

Kami datang saat musim semi baru saja dimulai. Membuat Nami terlihat biasa aja. Pohon – pohon hanya terlihat ranting kosong tanpa dedaunan. Di beberapa sisi ada timbunan es dari salju yang tersisa.

Nami island di kala awal musim semi, tidak begitu cantik

Tak banyak yang bisa saya eksplore karena keterbatasan waktu. Menjelang gelap, kami telah dihimbau untuk kembali menaiki kapal.

Setelah itu makan malam di sebuah restoran yang terletak tak jauh dari parkiran bus wisata. Menu kali ini ialah bakar – bakaran (nyebutnya apa ya). Lihat foto aja deh ya!

Menu makan malam hari pertama

Usai makan malam, lanjut lagi ke Ilsun Congdo Resort di Gangwon Do. Lokasinya tak jauh dari Mount Seorak tujuan kami esok harinya.

Ilsun Congdo Resort, tempat peserta tour menginap semalam

Kamar yang kami tempati cukup luas, ada AC tapi tidak kami gunakan karena udara diluar sangat dingin.

POI : Biasanya hotel yang digunakan dalam Paket Tour Korea adalah hotel bintang tiga

Hari Ketiga (Mount Sorak, Kimchi Making School dan Everland)

Paket tour ini juga menyediakan sarapan pagi di hotel bagi peserta. Kami sarapan di hotel dengan menu kentang goreng, scrambled egg dan potongan kepiting. Rasanya hambar! Untung bawa sambal dan bon cabe dari Jakarta.

Sarapan pagi di Ilsun Congdo Resort

POI : Makanan Korea cenderung hambar di lidah Orang Indonesia yang terbiasa menggunakan banyak bumbu pada tiap masakannya. Bawalah sambal atau bon cabe untuk penambah selera.

Setelah sarapan dan check out, kami langsung menuju bus dan berangkat ke Seoraksan National Park. Sepanjang perjalanan menuju kesana terlihat pemandangan khas pegunungan, hanya saja pohonnya cenderung homogen. Tak seperti Indonesia yang begitu beragam.

Tujuan kami ke Seoraksan National Park ialah untuk melihat Shinheungsa Temple dengan The Great Bronze Statue-nya serta Gwongeumsung Fortress dengan menaiki cable car.

Korea Selatan memiliki 22 taman nasional dan Seoraksan National Park bisa dikatakan yang menjadi favorit wisatawan selain Hallasan National Park di Pulau Jeju. Jadi, hampir tiap harinya taman nasional ini ramai oleh pengunjung terutama di hari libur dan akhir pekan.

Taman Nasional Seoraksan memiliki beberapa ikon seperti pohon pinus yang dipercaya sebagai yang tertua di Korea dan patung beruang hitam dengan dada berwarna putih berbentuk bulan sabit. Keduanya menjadi spot foto bagi wisatawan.

Pohon pinus, konon katanya yang tertua di Korea

Saat membeli tiket cable car, tercantum jadwal keberangkatan yang harus dituruti. Karena masih ada waktu sebelum naik cable car, Alex mengajak rombongan melihat Shinheungsa Temple. Tapi saya lebih memilih tidak ikut, dan santai di bangku yang berada di bawah pepohonan.

Jadwal cable car kami ialah jam 09.55 Waktu Korea. Sebelum waktu tersebut kami sudah harus mengantri bersama wisatawan lainnya.

Setelah tak kurang dari 10 menit naik cable car kami tiba Gwongeumsung Fortress, dari sini ada jalan setapak menuju ke puncak gunung. Ibu – ibu peserta sudah cukup senang sampai disini. Kalau saya pastinya lanjut lagi, saya ingin banget menjejakan kaki di salah satu tempat tertinggi di semenanjung Korea.

Saya saat menjejakan kaki di salah satu titik tertinggi di Semenanjung Korea

Menjelang tengah hari, Alex meminta kami untuk segera turun dan kembali ke bus. Tujuan kami selanjutnya adalah Everland. Tapi sebelum kesana, kami singgah di restoran untuk makan siang. Menunya berupa ikan bakar.

Menu makan siang di hari kedua

Usai makan siang, lanjut lagi perjalanannya.

Harusnya kami langsung ke Everland tapi ternyata singgah dulu di Kimchi Making School, harusnya ini adalah agenda di hari keempat. Tapi masukan ke hari ketiga. Saya kecewa dengan perubahan itinerary ini karena membuat waktu bermain di Everland jadi berkurang.

Di Kimchi Making School kami diajak untuk belajar membuat kimchi. Kimchi ini sayuran yang harus ada di meja makan orang Korea. Ya, dari pengamatan saya begitu. Mau makan dimana aja, pasti ada kimchi.

Di hadapan tiap peserta tour, sudah disediakan bahan pembuat kimchi yaitu sawi putih dan sambal.

Bahan pembuat kimchi

Kemudian kami dipandu oleh seorang Ibu Korea (yang lagi – lagi fasih berbahasa Indonesia).

“caranya buka sawi menjadi dua bagian”

“lalu oleskan sambalnya”

“kemudian lipat seperti ini”

Sudah gitu aja. Gag pakai ribet. Padahal aslinya buat kimchi itu ribet banget lho, karena ada proses fermentasi yang membutuhkan waktu berhari – hari. Habis itu kimchi yang sudah dibuat peserta tour dibuang begitu saja. Hiks!

Kemudian di tempat yang sama, peserta tour disediakan baju khas Korea atau hanbook. Jadi, di tempat ini ada semacam mini studio dengan berbagai latar untuk berfoto mengenakan hanbook.

Sesi mengenakan pakaian khas Korea

Agenda di Kimchi Making School selesai, lanjut lagi ke Everland.

Everland ini semacam dufan kalau di Jakarta. Ada banyak wahana bermain yang asik untuk dicoba. Karena waktu yang diberikan gag banyak, kami hanya sempat mencoba dua wahana saja yaitu kereta gantung dan 5D house. Kezel bat dah, jauh – jauh kesini Cuma dapat dua doang.

Saya saat sedang berada di Everland

Dari Everland lanjut lagi ke Dongdaemun Street. Tiba disana, Alex menggiring kami menuju ke toko oleh  – oleh, namanya Arirang. Arirang ini cukup populer di kalangan wisatawan asal Indonesia karena pegawainya fasih berbahasa Indonesia. Selain itu rupiah juga berlaku disini.

Makan malam tidak lagi disediakan, saya hanya mampu untuk makan malam di Lotte dengan menu ayam goreng dan French fries, saya lupa berapa won harganya. Yang jelas kalau dirupiahkan sekitar Rp 60 ribu.

POI : Agenda dalam Paket Tour Korea begitu padat, jadi siapkan fisik anda. Lihat juga Include dan Exclude yang anda dapatkan pada paket tournya.

Dari Dongdaemun, selanjutnya menuju Golden City Hotel tempat kami menginap selama dua malam.

Hari Keempat (Belanja Belanji)

Hari ini agenda wisatanya hanya belanja – belanja. Iya.

Tempat shopping pertama yang kami kunjungi ialah Korean National Ginseng Center. Iya ini tempat shopping ternyata. Jadi awalnya kami diajak untuk melihat – lihat ginseng – ginseng yang sudah tua banget usianya. Terus ada juga ginseng yang bentuknya unik, ada juga ginseng yang diukir sedemikian rupa dan dijual untuk koleksi, harganya mulai dari 10 juta Won atau sekitar Rp 120 juta.

Hiasan ginseng

Usai lihat – lihat ginseng, kami diajak ke lantai atas. Dan disambut oleh seorang yang bertugas di toko obat ginseng. Disini kami diperlihatkan video mengenai ginseng mulai dari ia ditanam sampai diramu menjadi obat. Oh ya, disini kami tidak diperkenankan untuk menggunakan kamera.

Setelah itu kami digiiring masuk ke dalam toko, sementara itu Alex keluar dan menunggu kami di bawah. Nah, di dalam toko ini kami ditawarin berbagai racikan obat yang terbuat dari ginseng. Harganya lumayan mahal, gaji saya sebulan aja ga cukup. Hiks.

Aneka produk kesehatan yang terbuat dari ginseng

Tempat shopping kedua adalah The Odbo yang merupakan cosmetic shop. Sampai disini kami disambut oleh pelayan toko yang fasih berbahasa. Kami diajak mencoba beragam produk kosmetik yang tersedia disini. Nah, kalau untuk harga kosmetik ternyata lebih murah daripada di Jakarta. Serius!

The odbo cosmetic shop

Memasuki tengah hari, kami singgah di resto untuk makan siang dengan menu Samgyetang atau sop ayam khas Korea.

Makan siang dengan Samgyetang

Usai makan siang ke tempat belanja lagi dong. Dan tempat shopping ketiga adalah The Pine yang merupakan healthy liver shop.

Tiba disini, kami diajak untuk melihat presentasi mengenai khasiat produk yang terbuat dari bahan pinus (entah batangnya, daunnya, getahnya atau buahnya, saya kurang memperhatikan waktu itu).

Intinya produk dari mereka ini bisa menyehatkan fungsi hati.

Lalu dibuat semacam show off, salah satu dari kami dipanggil ke depan, lalu salah satu jarinya ditusuk dengan pinset, dikeluarkan darahnya dalam plat tester dan diperlihatkan ke mikroskop yang telah tersambung dengan layar.

Kata si orang toko, dari darah yang terlihat, nampak orangnya terjangkit kolesterol yang cukup tinggi. Kemudian darah tersebut di tetesin dengan extrak pinus dan foila darahnya jadi bagus (lemaknya hilang)

“jadi kalau bapak ibu minum ini dengan teratur bisa menyehatkan”

Kemudian baru deh mereka jualan, harga sepaketnya mahal banget. Tapi mereka enggak maksa beli sih.

“ini buat kesehatan, bisa dipakai setahun, jadi kalau anda beli ini artinya anda hanya mengelurkan sekian rupiah per harinya” jago banget dah marketing salesnya.

Sudah tiga tempat shopping apakah Sudah selesai agenda belanjanya?

Ternyata belum, selanjutnya kami diajak Ametyhst Show Case yang merupakan tempat penjualan giok. Padahal giok Indonesia lebih keren lagi.

Masih ada tempat belanja, kali ini ialah Donghwa Duty Free. Pokoknya hari ini agendanya cuma belanja.

Tak jauh dari Donghwa Duty Free ada Gwanghwamun Square, daripada belanja – belanja, saya memilih menghabiskan waktu disana.

Ga bawa uang banyak ke Korea, waktu peserta tour ke Donghwa Duty Free, saya ngacir ke Ganghwamun Square

Selanjutnya ialah Myeondong Street yang dikenal sebagai tempat hunting street food ala Korea. Disini kami diberi kebebasan oleh Alex, tapi tetap saja waktunya dibatasi. Pokoknya jam sekian harus kembali ke bus, ya harus balik. Kalau telat ditinggal.

Myeondong street tempat untuk berburu street food

Di Myeondong Street saya sempat mencoba jajanan permen gula, rumput laut kering dan fish cake.

Selain jajanan di Myeondong juga banyak cosmetic shop yang harganya jauh lebih murah dari tempat kami sebelumnya. Pelayan toko disini pun dengan royal memberi tester masker kepada pengunjung, padahal belum tentu juga beli.

Makan malam di hari keempat ini juga tidak disediakan. Lagi – lagi fast food menjadi sasaran saya, kali ini ialah KFC.

Tepat jam 19.00 waktu Korea, kami telah kembali ke bus, kemudian melanjutkan perjalanan ke Namsan Tower atau juga dikenal dengan sebutan Seoul Tower.

Ternyata ada beberapa peserta yang belum tiba di bus, mereka pun ditinggal dan terpaksa naik taksi untuk menyusul kami.

Tiba di parkiran Namsan Tower, kami harus berjalan menanjak di tengah udara dingin malam.

Namsam Tower ini merupakan salah satu lokasi favorit bagi muda mudi Korea. Di pagar pengamannya banyak terpasang gembok – gembok cinta.

Namsan Seoul Tower

Hari semakin malam dan dingin, kami kembali ke Grand City Hotel untuk istirahat.

POI : Mengunjungi tempat shopping merupakan agenda wajib bagi peserta tour. Bahkan saya pernah mendapatkan informasi bahwa apabila peserta tour tidak mau mengunjungi tempat shopping yang telah ditentukan maka ada denda yang harus dibayar.

Wajib ikut agenda Shopping ya!

Hari Kelima (Penerbangan Incheon – Jakarta)

Hari terakhir Tour Korea

Jam 05.00 waktu Korea kami sudah harus check out dari hotel. Untuk mengejar jadwal pesawat pada jam 10.35 waktu Korea.

Kami melewatkan sarapan di hotel, sebagai gantinya kami diajak untuk sarapan di rest area. Menu sarapannya mie rebus, eh mie rebus apa ramen ya nyebutnya. Rasanya hambar banget !

Sarapan hari terakhir di Korea, rasanya hambar banget

Di rest area ini juga tersedia mini market yang menjual cemilan – cemilan khas Korea dengan harga yang jauh lebih murah dari yang ada di Kimchi Making Scholl atau Ginseng Center.

Oh iya, kelewatan

Jadi selain ada tour guide, dalam Tour Korea ini juga ada Fotografer. Beliau akan memfoto – foto peserta tour di tempat – tempat wisata. Di hari keempat yang agendanya belanja – belanja itu, fotografer ini enggak ikutan. Dia akan mencetak foto dan akan dijual di hari kelima, pada saat peserta tour menuju bandara.

Harga per lembar fotonya 5000 Won atau setara Rp 60 ribu. Jancuk, larange!

Saya mendapatkan 15 foto, tapi saya hanya mengambil 5 lembar saja.

Bagi yang membeli semua foto, maka fotografer ini akan memberi bonus CD yang berisikan file foto.

POI : Soal foto ini, silahkan beli atau tidak. Ia tidak memaksa. Paling ada rasa enggak enak hati aja kalau enggak beli sama sekali.

Tiba di Bandara Incheon, Team Leader yang telah sampai terlebih dahulu langsung membagikan boarding pass kepada peserta. Untuk bagasinya diurus masing – masing. Kemudian pemeriksaan bagasi, menuju ruang tunggu, menunggu jadwal penerbangan. Dan kami pun kembali ke Jakarta.

Kesimpulan

Dari cerita saya yang amat panjang kali lebar dan agak bertele – tele ini bisa disimpulkan secara garis besar Paket Tour Korea yang dijual oleh travel agent – travel agent itu memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan

  •  Harganya murah, dengan harga mulai dari Rp 8.5 juta sudah mendapatkan tiket pesawat Jakarta – Incheon PP dengan pesawat high class. Coba anda cari sendiri, harga segitu paling cuma dapat tiket doang. Belum biaya jalan – jalan dan akomodasi selama di Korea.
  • Gag perlu repot – repot menyusun itinerary, antri beli tiket masuk tempat wisata, nyari hotel serta sewa kendaraan semuanya sudah disiapkan oleh travel agente dan tour guide selama disana.

Kekurangan

  • Agendanya padat banget, karena banyak tempat yang ingin dikunjungi
  • Waktu kunjungan di tiap tempat wisata terbatas, jadi kurang puas untuk menikmati suasananya
  • Ada satu hari yang digunakan hanya untuk berkunjung ke tempat – tempang shopping yang telah ditentukan oleh tour guide disana.
  • Bagi para milenial yang lebih mencari pengalaman, dan ingin berbaur dengan suasana yang lebih Korea. Tidak cocok mengikutinya.

You may also like...