“Kalian tahu PLTD Apung Aceh?” tanya dosen pengampu mata kuliah Teori Bangunan Apung
“jadi monument tsunami di Aceh, pak” jawab sebagian mahasiswa
“Ya, kalian tahu? Bahwa team dari ITS merupakan bagian dari pembuatan PLTD Apung tersebut”
“Dan kalian lihat? kapal tersebut tetap stabil dan tidak terguling meski diterjang oleh gelombang tsunami”
Saya menangkap maksud yang disampaikan oleh dosen tersebut. Intinya, luar biasa banget deh, bisa merancang kapal yang sangat stabil.
Cerita tersebut menjadi salah satu alasan saya waktu itu untuk ber-angan menjadi seorang Naval Architect Engineer meski saya kuliah di jurusan Teknik Kelautan. Dan, angan tersebut menjadi kenyataan 3 tahun setelah saya mendengar cerita dosen itu.
Mengunjungi Monumen PLTD Apung Aceh
Sebelumnya saya tak pernah menyangka akan bisa mengunjungi Aceh, provinsi paling barat dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Soalnya jauh, terus ngapain pula saya kesana? Kampung saya kan di Padang, Sumatera Barat.
Namun ternyata, di penghujung tahun 2016, saya berkesempatan untuk menjejakan kaki di provinsi yang dijuluki sebagai Serambi Mekah ini.
Tujuan kesana waktu itu ialah untuk melamar seseorang yang kelak menjadi istri saya. Keluarganya ada di Lhokseumawe. Dari Jakarta, bersama orang tua kami menuju Banda Aceh terlebih dahulu.
Tiba di Banda Aceh, kami dijemput oleh Bang Zulfan. Beliau adalah teman saya dari komunitas D’Traveler, selama ini hanya berkomunikasi via group whatsapp. Dan sekarang akhirnya berjumpa juga.
Baca juga : Masjid Baiturrahim Ulee Lheue, Wisata Religi di Banda Aceh selain Masjid Baiturrahman
Oleh Bang Zulfan, kami diajak mengunjungi beberapa objek wisata yang ada di Banda Aceh, salah satunya adalah monumen PLTD Apung Aceh yang ada di wilayah Punge Blang Cut, Jaya Baru, Banda Aceh.
Untuk masuk ke area obyek wisata tidak dikenakan biaya alias gratis. Namun, wisatawan harus tahu bahwa obyek wisata di Aceh tutup sementara pada saat memasuki waktu salat.
Sedikit Cerita, Mengapa PLTD Apung Bisa Sampai di Lokasi Saat ini ?
Tsunami Aceh terjadi pada 26 Desember 2004 sebelum tsunami melanda Aceh, PLTD Apung menyediakan energi listrik sekitar 10 megawatt untuk warga Kota Banda Aceh.
Pada saat tsunami terjadi, tongkang PLTD Apung milik Pertamina dengan berat mati sekitar 2600 ton itu terseret gelombang tsunami dari Pelabuhan Ulee lheue hingga ke Kampung Punge Blangcut yang jarak keduanya sekitar lima kilometer.

Ada Apa Aja Disini?
Saat ini kapal dengan panjang 63 meter ini menjadi obyek wisata bagi wisatawan yang ingin melihat langsung dampak dari dahsyatnya musimbah yang menimbulkan sekitar 150.000 korban jiwa, baik meninggal maupun hilang.

Di atas kapal terdapat satu teropong yang disediakan bagi pengunjung yang ingin melihat pemandangan Kota Banda Aceh dari atas ketinggian kapal. Dari sini kita juga bisa melihat deretan Bukit Barisan dan laut dikejauhan.

Bagian dalam kapal PLTD Apung Aceh telah direnovasi menjadi wahana edukasi. Setiap pengunjung dapat melihat video dan membaca tentang seluk beluk kapal dan penyebab terjadinya tsunami.
Di sekitar kapal telah dibangun taman edukasi yang dilengkapi dengan informasi dan foto mengenai tsunami Aceh 2004. Selain itu juga ada monumen peringatan yang dibangun dengan relief menyerupai gelombang air bah. Pada monument tersebut terdapat sebuah jam yang menunjukan waktu terjadinya tsunami.

[…] Baca juga : PLTD Apung, Dulu Pembangkit Listrik Kini Monumen Wisata […]
[…] Baca juga : PLTD Apung, Dulu Pembangkit Listrik Kini Monumen Wisata […]