(+62) 897-7257-136 [email protected]

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Birth Date*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.
Please agree to all the terms and conditions before proceeding to the next step

Already a member?

Login
(+62) 897-7257-136 [email protected]

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Birth Date*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.
Please agree to all the terms and conditions before proceeding to the next step

Already a member?

Login

Medan ke Padang, 755 Kilometer, 22 Jam Bersama Bus ALS Super Eksekutif Nopi 276

als medan padang

Di akhir November 2020, saya merasakan kembali sensasi naik Bus ALS. Pertama kalinya saya naik ALS adalah tahun 2014. Waktu itu saya naik ALS dari Terminal Kalianda Lampung sampai ke Lahat. Nah, kali ini saya akan menaiki Bus ALS yang akan mengantarkan saya dari Medan ke Padang, kampung halaman saya.

Saat ini setidaknya ada 5 perusahaan otobus yang melayani rute Medan Padang PP, mereka adalah trio perusahaan otobus asal Aceh yaitu Sempati Star, Kurnia Group, dan Putra Pelangi Perkasa. Kemudian NPM dan ALS. Kelimanya bersaing merebutkan ceruk pasar di lintas Medan Padang.

Lantas mengapa saya memilih ALS?

Jawabnya adalah untuk mendapatkan pengalaman perjalanan yang baru, mungkin saja lebih menarik dan menantang. Sebab trio bus asal Aceh dan NPM semuanya memilih melalui jalur lintas timur Sumatera dimana akan melewati kota Payakumbuh, Bangkinang, Duri dan Pekanbaru.

Sedangkan ALS sendiri lebih memilih jalan yang anti mainstream yaitu jalur lintas barat yang terkenal dengan jalannya yang lebih curam dan lebih berliku.

Sebelumnya saya pernah naik Bus NPM dari Padang ke Medan yang melewati lintas timur. Jadi saya sudah paham jalurnya. Cerita perjalanannnya waktu naik NPM ada disini.

Kembali ke ALS Medan Padang.

Jadi di rute Medan Padang atau sebaliknya, ALS memiliki tiga kelas bus yaitu Ekonomi, Eksekutif dan Super Eksekutif.

Harga untuk tiap kelasnya adalah Ekonomi Rp 190.000, Eksekutif Rp 220.000 dan Rp 290.000

harga tiket bus als

Adapun untuk jadwal keberangkatannya dari Pool ALS Medan adalah sebagai berikut

Ekonomi (Non AC)  Jam 14.00

Eksekutif (AC Toilet) Jam 12.00

Super Eksekutif Jam 16.30

Note : Jadwal tersebut bisa berubah ya, tergantung kebijakan management ALS

Dari tiga kelas bus ALS yang tersedia, saya memilih yang Super Eksekutif supaya perjalanan dari Medan ke Padang lebih nyaman. Selain itu saya dapat merasakan bus dengan kasta tertinggi yang dimiliki oleh ALS. Perlu kalian tahu bahwa di hanya rute Medan Padang PP inilah ALS melayani kelas Super Eksekutif dengan konfigurasi seat 2 – 1 dan di tiap bus hanya tersedia 21 kursi saja! Ekslusif bukan?

kursi bus als super eksekutif

Nah karena keekslusifannya inilah, kelas Super Eksekutif yang dimiliki ALS selalu penuh penumpang. Sehingga kalau mau naik bus ini, kita harus memesannya jauh – jauh hari. Kita bisa membelinya melalui Traveloka atau menelpon loketnya secara langsung di nomor (061) 7866685

Demi menaiki ALS Super Eksekutif ini saya rela menggeser hari keberangkatan supaya mendapatkan seat paling depan. Karena saya tidak hanya sekedar naik bus saja tetapi juga hendak merekam perjalanannya.

Saya pun mendapatkan tiket dengan nomor seat 1, sesuai dengan incaran untuk keberangkatan pada hari Minggu, 29 November 2020.

Menuju Loket ALS Medan

Sehari sebelumnya, saya telah melakukan perjalanan cukup panjang dari Lhokseumawe ke Medan. Di Medan saya istirahat semalam terlebih dahulu di Swiss Belinn Medan yang ada di Jalan Surabaya. Di usia yang sudah menginjak kepala 3 ini saya memang tidak bisa lagi “ngebut”dalam perjalanan. Maksudnya baru tiba di kota ini, langsung lanjut ke kota itu.

Tepat jam 2 siang, saya meninggalkan hotel, lalu berjalan kaki ke Halte Trans Metro Deli yang tidak begitu jauh dari hotel.

Pas banget, saat saya sampai di halte, bus Trans Metro Deli yang berwarna hijau itu tiba. Saya langsung menaikinya dari pintu depan dan ternyata saya tidak perlu tapping e-money sebab saat itu bus ini sedang dalam tahap pengenalan dan promosi kepada warga Medan.

Saya pun tiba di Halte Masjid Ar Rivai yang lokasinya tepat diseberang Pool Bus ALS Medan. Saya senang sekali bisa menaiki Bus Trans Metro Deli, soalnya kalau naik taksi online mesti bayar Rp 39 – 45 ribu. Kan lumayan hematnya, bisa buat beli makan di jalan nanti.

Tiba di Loket ALS

Saya langsung menyeberang dan tiba di loket ALS. Kemudian saya melapor ke loket untuk di data dalam manifes penumpang.

Suasana loket di sore itu cukup ramai, meski saat ini kita masih berada dalam kondisi pandemic covid-19, namun hal itu tidak menjadi penghalang bagi orang untuk bepergian. Banyak sih alasannya, ada yang pergi karena kerja, ada pula yang pergi untuk keluarga bahkan ada yang pergi karena alasan keduanya dan itulah saya.

jadwal keberangkatan als

Tepat jam 4 sore, bus ALS dengan nomor pintu 276 mulai menempati posisinya, tempat parkir khusus  bagi bus ALS yang akan berangkat.

“Yo, Padang.. Padang.. Padang..” kata seorang bapak bertubuh kurus dengan suara agak parau, belakangan saya ketahui beliau adalah Pak Jo, stokar 2 bus ini.

Sementara itu bapak – bapak berbadan gempal dengan kaus merah sibuk mendata barang bawaan penumpang sebelum dimasukan ke dalam bagasi yang ada di bagian bawah bus. Setelah di data, bapak itu memberikan kertas berwarna kuning yang bertuliskan nomor tiket dan disteples dengan lembaran tiket.

Oleh Bang Silalahi (Stokar 1) bagasi diatur dengan rapi agar semua barang bawaan penumpang serta paket bisa muat ke dalamnya.

Berangkat ke Medan

Jam 16.20, bus mulai dinyalakan mesinnya, penumpang diperkenankan untuk naik ke dalam bus.

Kemudian bang Silalahi mulai menghitung jumlah penumpang. Saat itu terhitung ada 19 penumpang. Sementara itu di tempat kemudi, bang Ucok sudah stand by, ia tinggal menunggu aba – aba untuk berangkat.

Jam 16.45, akhirnya bus pun mulai berangkat dan keluar dari poolnya. Bus berputar balik di Jalan Sisingamangaraja, mengarah ke Amplas.

Tiba – tiba saja Pak Panjang (Driver 2) yang duduk di kursi paling belakang meminta berhenti. Rupanya ia baru saja mendapatkan telpon dari orang loket yang mengatakan penumpan di kursi nomor 4 baru saja datang.

Membuat kami harus menunggu beberapa saat.

Tak lama kemudian datang seorang pemuda dengan wajah cukup rupawan, ia mengantarkan ibunya ke atas bus dan memastikan ibunya duduk di tempat sesuai tiketnya. Setelah itu bus kembali berangkat. Melewati jembatan layang di Amplas lalu masuk tol dari gerbang tol Amplas dan keluar lagi di Lubuk Pakam.

Di Lubuk Pakam, bus masuk ke terminal. Disini ternyata ada 1 lagi penumpang yang masuk. Artinya bus ALS 276 yang saya naiki ini okupansinya 100% hari itu. Luar biasa.

Masuk Tol ke Tebing Tinggi

Setelah selesai urusan di Terminal Lubuk Pakam, bus kembali melanjutkan perjalanan dan langsung masuk tol via gerbang tol Lubuk Pakam.

Suasana di tol begitu syahdu karena nampak dilangit sana sedang berpesta pora dengan sinar keemasannya.

Menjelang maghrib, bus keluar dari tol dan sampailah kami di Kota Tebing Tinggi. Saat itu Tebing Tinggi baru saja pulih dari musibah banjir yang menimpanya. Di sisi kiri jalan yang lebih rendah, masih nampak genangan air sisa banjir.

Maghrib pun datang, Bus ALS 106 nampak berhenti di masjid pinggir jalan. Sementara bus yang saya tumpangi tetap melanjutkan perjalanannya.

Tibalah kami di sebuah persimpangan, bus mengarah ke kiri menuju Pematang Siantar. Ia melewati jalur yang tidak semestinya. Seharusnya bus ALS Super Eksekutif tujuan Padang melewati Rantau Prapat dan Labuhan Ratu.

Melewati Danau Toba

Setelah melewati Kota Pematang Siantar, smartphone saya tidak mampu lagi menangkap sinyal sehingga saya buta terhadap daerah yang dilewati.

Jalur yang dilewati cukup sempit untuk dilalui oleh bus, banyak kelokan tajam dan lubang – lubang di jalan. Pun halnya dengan longsor, ditambah lagi hujan deras membuat kabut menghalangi pandangan. Saya hanya bisa berdoá dibalik selimut tipis yang mencoba menahan dinginnya AC bus dimalam hari.

Hujan mulai reda, tapi jalan masih berkelok – kelok. Saya masih penasaran, ini dimana?

Akhirnya rasa penasaran saya terjawab tatkala melihat sebuah plang di jalan bertuliskan Prapat.

Alamak, bukankah Prapat itu dekat dengan Danau Toba? Apakah bus akan melewati Danau Toba? Tanya saya dalam hati. Hati saya nanya – nanya terus dari tadi seperti pegawai baru.

Kemudian dari kaca depan bus, saya melihat kelap – kelip lampu yang seperti mengambang di atas air.

“itu Danau Toba” Kata Bu Riska yang duduk di samping saya.

“Ah Danau Toba, sayang malam ya, kita tidak bisa melihat apapun, hanya kelap – kelip lampu saja” kata saya

Di kiri jalan banyak kedai atau café yang masih beroperasi. Dan banyak juga mobil dan motor yang berhenti di kedai – kedai tersebut.

Bus terus melaju hingga Danau Toba tidak nampak lagi dan sampailah kami di Prapat. Saat itu waktu telah menunjukkan jam 21.00

Jam 21.30 akhirnya bus berhenti di Rumah Makan Family yang masih berada di wilayah Parapat untuk istirahat dan makan malam.

Sebagai rumah makan yang disinggahi oleh bus AKAP, fasilitas di rumah makan ini cukup lengkap dimana tersedia toilet yang cukup banyak dan mushola. Hanya saja kondisi musholanya nampak kurang terawat, karena banyak sekali kotoran cicak pada lantai mushola.

Usai sholat, saya langsung ke tempat makan, memesan nasi, sayur kol, ayam goreng serta sambal bawang. Saya memakannya dengan lahap dan cepat, karena waktunya tidak banyak lagi. Dan benar saja, belum tuntas urusan makannya, sopir mengklakson  – klakson sebagai isyarat jika bus akan kembali melanjutkan perjalanan.

Tidur

Kali ini ruang kemudi diambil alih oleh Pak Panjang yang merupakan driver senior yang telah mengabdi di ALS selama 35 tahun, ia ditemani oleh Pak Jo sebagai helper.

Karena habis makan malam ditambah suhu yang dingin di kabin bus, membuat saya tertidur pulas. Saya sempat terbangun saat bus berhenti di sebuah SPBU untuk mengisi solar.

Mandailing Natal

Sebelum jam 5 pagi, saya telah terbangun. Kali ini bus telah berada di wilayah Kabupaten Mandailing Natal.

Tepat jam 05.00, bus berhenti di masjid Riyadhus Sholihin untuk memberi kesempatan sholat shubuh bagi penumpang yang menjalaninya.

Ada yang menarik pada masjid ini yaitu tersedia banyak pancuran yang bisa digunakan untuk mandi bagi para musafir yang singgah di masjid ini. Airnya begitu sejuk.

Kotanopan, Tempat Kelahiran ALS

Usai sholat shubuh, bus kembali melanjutkan perjalanan. Saya melihat ALS 106 tujuan Kotanopan masih terparkir di depan masjid. Masjid yang berbeda dengan tempat kami.

Matahari mulai menghapus warna gelap dilangit. Kini saya bisa melihat suasana jalan dengan jelas. Namun saya tetap buta akan nama – nama daerah yang dilewati karena smartphone saya telah mati sejak semalam. Pesan : jangan lupa bawa power bank biar selalu eksis di jalan, sebab tidak semua bus tersedia colokan buat nge-charge smartphone.

Jam 06.30, bus memasuki wilayah Kotanopan. Kotanopan dan ALS tidak dapat dipisahkan sebab dari sinilah ALS lahir.

15 menit kemudian, masih di wilayah Kotanopan, bus berhenti di Rumah Makan Duta Selera yang berada tepat disamping perwakilan ALS Kotanopan. Bus ALS 106 pun tiba dan langsung menurunkan penumpangnya. Rutenya berakhir disini.

Karena masih pagi belum tersedia lauk di rumah makan ini. Yang ada hanya sekedar menu untuk sarapan pagi seperti nasi goreng, mie rebus dan nasi soto. Kita harus memesannya secara langsung di dapur. Kalau enggak, pelayannya gak akan ngeh.

Saya memesan nasi goreng plus telur dadar. Sembari menunggu, kita bisa ke meja kasir dimana tersedia banyak colokan yang bisa digunakan untuk mengisi baterai smartphone. Tapi fasilitas ini tidak gratis ya, tiap item yang nancap di colokan tersebut dikenakan biaya Rp 3 ribu.

Tikungan Bukit Dua Belas, Muara Sipongi

Setelah istirahat kurang lebih 45 menit, bus kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini kemudi kembali diambil alih oleh Bang Ucok dan dibantu Bang Silalahi.

Saya tidak begitu memperhatikan daerah yang dilewati, namun ada satu ruas jalan sepanjang kurang lebih 3.2 kilometer yang begitu saya ingat. Ia adalah tikungan Bukit Dua Belas di Muara Sipongi. Lokasinya hampir mendekati wilayah Provinsi Sumatera Barat.

Ruas jalan yang hanya 3.2 kilometer itu cukup membuat adrenaline terpacu. Tikungan Bukit Dua Belas jika kita datang dari arah Medan maka pangkalnya berada di Pintu Angin yang memiliki ketinggian 765 mdpl. Sedangkan ujungnya berada di Ranjo Batu yang memiliki ketinggian 556 mdpl.

Adapun kecuraman jalan ini 6,5 derajat. Jumlah tikungannya sebanyak 20 tikungan ke kanan dan 25 tikungan ke kiri.

Pada sebelah kanan jalan merupakan jurang yang dalam dan sebelah kirinya adalah tebing yang pada musim hujan sangat rawan akan longsor.

Memasuki Wilayah Provinsi Sumatera Barat

Bang Ucok begitu lihai menaklukan semua tikungan yang ada di Bukit Dua Belas.

Akhirya bus melintasi perbatasan antara Sumatera Utara dengan Sumatera Barat. Artinya saya telah meninggalkan Sumatera Utara dan berada di Ranah Minang.

Meski telah berada di wilayah Sumbar, namun kota Padang masih jauh, masih ada jarak sekitar 230an kilometer lagi.

Saya sempat tertidur dan kembali terbangun saat bus telah memasuki wilayah Panti. Kini mulai terlihat suasana ramai dan orang yang berlalu lalang. Sebelumnya yang saya lihat adalah hutan dan hutan.

Namun ternyata bus lagi – lagi melintasi jalan yang membelah hutan, hutan itu bernama Rimbo Panti.

Melintasi Khatulistiwa

Setelah Panti, selanjutnya adalah Lubuk Sikaping yang merupakan Ibukota dari Kabupaten Pasaman. Disini saya tidak melihat bangunan megah yang mencolok, biasanya kan seperti itu di sebuah ibukota kabupaten. Atau mungkin saya-nya yang kurang memperhatikan.

Setelah Lubuk Sikaping, selanjutnya adalah Bonjol. Familiar atau pernah dengan nama tersebut?

Bonjol adalah salah satu kecamatan di Pasaman. Namanya cukup terkenal karena lokasinya berada tepat di garis khatulistiwa. Selain itu disini juga merupakan tempat kelahiran Tuanku Imam Bonjol, Pahlawan nasional dalam perang menghadapi penjajah Belanda.

Anda Telah Melintasi Garis Khatulistiwa, begitu tulisan di sebuah gapura yang ada di Bonjol. Itu artinya saya baru saja berpindah dari belahan utara bumi ke belahan selatan bumi.

Tiba di Bukittinggi

Bonjol telah terlewati dan lagi – lagi bus memasuki jalan yang membelah hutan. Entah sudah berapa ruas jalan yang seperti ini.

Rasanya tak kuat lagi.

Rasanya ingin bernyanyi

“seandainya aku punya sayap”

“terbang, terbang lah aku”

Kamu gag tahu lagu itu. Lihat nih video di bawah.

Dari hutan, kemudian nampak lagi keramaian. Artinya bus sudah sampai di Gadut yang merupakan salah satu nagari di wilayah Kabupaten Agam. Jika sudah sampai di Gadut, artinya sudah dekat dengan Bukittinggi.

Di Gadut bus sempat berhenti di depan bengkel. Sepertinya ada spare part yang harus dibeli.

Dari Gadut, bus melintasi jalan by pass. Lalu di simpang Manggis mengambil arah kiri dan tibalah kami di Loket ALS perwakilan Bukittinggi.

Disini bus hanya berhenti sebentar saja, tidak untuk berhenti makan.

Menuju Padang Kota Tacinto

Usai menurunkan beberapa penumpang, lanjut lagi perjalanan ke Kota Padang. Saya kembali bertanya dalam hati, mengapa tidak berhenti terlebih dahulu untuk makan siang? Apa karena sudah sampai di Bukittinggi jadi rasanya tanggung buat makan siang. Jadi sekalian aja langsung tembak ke Padang.

Perjalanan menuju Simpang Padang Luar begitu lancar, biasanya simpang ini begitu ramai dan bikin macet.

Kemudian di Pasar Koto Baru sempat sedikit tersendat karena adanya hari pasar. Disini kami berjumpa dengan Bus NPM yang nampak baru dalam balutan body Laksana Legacy Sky SR-2. Belum ada tameng yang terpasang pada kaca depannya. Jadi saya yakin bus tersebut masih baru.

Bus tidak memasuki Terminal Padang Panjang, ia hanya berhenti tepat di depan pintu masuk terminal untuk menurunkan penumpang. Disini naik seorang ibu yang berjualan sala lauk, telor asin dan pisang rebus.

Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, ibu penjual ini selain menjajakan dagangannya ia juga menumpang untuk kembali ke Sicincin.

Pak Panjang membeli 3 butir telur asin, salah satunya untuk saya. Oh iya, semenjak dari Terminal Padang Panjang saya meminta izin ke Pak Panjang untuk duduk di ruang kemudi, supaya saya bisa merekam perjalanan lebih jelas lagi.

“makanlah telur asin tu” kata Pak Panjang

Tawaran yang tidak saya tolak. Terima kasih banyak Pak Panjang, pas banget kan belum makan siang.

Beranjak dari Kota Padang Panjang, bus memasuki jalan yang melintasi Cagar Alam Lembah Anai dimana terdapat air terjun yang menjuntai di tepi jalan. Rasanya jalan di Lembah Anai ini adalah salah satu ruas jalan dengan pemandangan indah di Indonesia.

Kayu Tanam – Sicincin – Lubuk Alung dilalui dengan sangat lancar.

Kemudian sampailah di Simpang Duku, bus mengarah ke kiri menuju Jalan By Pass. Perjalanan masih lancar sampai terjebak macet di persimpangan Kuranji.

Setelah melewati macet, bus terus melaju dan akhirnya tepat jam 15.00, bus tiba di loket ALS Padang yang ada di Jalan By Pass, Lubuk Begalung.

Kemarin berangkat jam 16.30 dan kini tiba jam 15.00, artinya trip Medan Padang ini kurang dari 24 jam!

Luar biasa

Terima kasih pada crew yang bertugas. Perjalanan yang menyenangkan karena bertambah lagi daerah – daerah ataupun daftar kabupaten yang telah saya lewati.

1 Response

Leave a Reply