(+62) 897-7257-136 [email protected]

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Birth Date*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.
Please agree to all the terms and conditions before proceeding to the next step

Already a member?

Login
(+62) 897-7257-136 [email protected]

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Birth Date*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.
Please agree to all the terms and conditions before proceeding to the next step

Already a member?

Login

Dari Medan ke Takengon Naik Bus Mewah Harapan Indah

bus harapan indah

Waktu libur lebaran tahun 2019 atau 1440 H, saya bersama istri dan anak diajak oleh ayah mertua jalan – jalan ke Takengon. Sayangnya waktu itu kami hanya tektok alias langsung pulang kembali tanpa menginap disana. Bagi saya, tentu saja rasanya kurang puas dan jika ada kesempatan kembali kesana saya akan gunakan dengan sebaik – baiknya.

Dan kesempatan itu datang pada akhir November 2020. Kebetulan saya dapat izin untuk working from home di Lhokseumawe, tempat kelahiran istri. Atas restu dari istri, saya diizinkan untuk ngetrip dari Medan ke Takengon.

Begitu dapat izin, saya langsung menghubungi nomor loket Harapan Indah di Medan untuk memastikan ketersediaan kursi di hari yang saya inginkan.

“masih kosong, bang?”

“bangku depan?”

“iya”

“oke, saya pesan satu ya, berapa?”

“Yang Patas VIP Rp 130 ribu, Tronton Rp 160 ribu”

“Yang tronton saja kalau begitu”

Oke, saya sudah membooking tiket untuk Sabtu, 21 November 2020. Bangkunya pun sesuai dengan keinginan yaitu di paling depan. Alasannya tentu saja nanti waktu di perjalanan saya juga akan merekam video. Karena waktu itu rasanya belum ada yang membuat video trip Medan Takengon. Kalau Medan ke Banda Aceh sudah banyak banget.

Jadwal keberangkatan Bus Harapan Indah tujuan Medan ke Takengon adalah jam 20.00, untuk loketnya sendiri ada di Jalan Gagak Hitam No. 88, Sunggal, Medan.

Pagi hari saya telah berangkat menuju Medan menggunakan Travel Bahtera. Lama perjalanan dari Lhokseumawe ke Medan sekitar 8 jam. Oh iya, tapi saya tidak langsung ke loket Harapan Indah tapi ke Loket ALS dulu di Jalan Sisingamangaraja untuk mengambil tiket Super Eksekutif tujuan Medan Padang.

Cerita perjalanan dari Medan ke Padang bersama ALS ada disini ya

Beres urusan di loket ALS, saya langsung bergegas ke loket Harapan Indah dengan menggunakan jasa ojek online.

Jam 19:30 saya tiba di loket, langsung saja saya melapor juga membayar tiketnya sebesar Rp 160 ribu.

loket bus harapan indah

Di depan loket sudah tersedia dua unit bus Harapan Indah yaitu bus kelas patas VIP dan tronton. Keduanya sama – sama menuju Takengon.

Sebelum berangkat, saya manfaatkan waktu yang tersisa untuk makan malam. Untungnya di depan loket Harapan Indah ini tersedia penjual makanan ada mie aceh, nasi goreng dan Sate Padang.

penjual makanan di loket bus harapan indah

Kalau kamu nanti ingin ke Takengon dengan Harapan Indah, saran saya sebelum berangkat, makanlah terlebih dahulu sebab bus tidak akan berhenti di rumah makan.

Review Bus Harapan Indah Medan Takengon

Setelah makan, saya langsung naik ke bus dan berhubung belum berangkat saya mencoba untuk mereviewnya sejenak.

Jadi Bus Harapan Indah yang saya naiki ke Takengon ini sasisnya dari Mercedes Benz dengan tipe OC500 RF 2542. Ini merupakan salah satu sasis premium dari Mercedes benz. Untuk bodi yang membalut sasis adalah Avante H9 buatan karoseri Tentrem dari Malang. Bus ini adalah bus berbody Avante H9 pertama di lintas Medan – Aceh.

Total kursi penumpang yang tersedia sebanyak 36 kursi. Pada tiap kursinya terdapat selimut tebal, bantal, leg rest dan reclining seat yang bisa diatur sesuai dengan posisi nyaman.

Pada bagian belakang bus tersedia smoking area dan toilet yang digunakan hanya untuk buang kecil dan pada saat bus berjalan.

By the way, ini adalah pertama kalinya saya menaiki bus seperti ini. Dan kesannya enak banget, suara pada mesin ga kedengaran, halus banget.  

Berangkat Menuju Takengon

Tepat jam 20:00, bus mulai berangkat menuju Takengon. Suasana Kota Medan cukup ramai waktu itu, maklum saja, ini kan malam minggu. Meski pun masih suasana pandemi covid-19, tidak membuat orang takut untuk keluar bermalam minggu.

Video Trip Bus Harapan Indah Medan Takengon

Hanya dalam waktu 30 menit, bus telah meninggalkan wilayah Kota Medan dan memasuki wilayah Kota Binjai.

Di Binjai ini bus berhenti dua kali di agent untuk menaikkan penumpang. Dari sini naik penumpang yang duduk di sebelah saya, ia adalah seorang mahasiswa asal Takengon yang kuliahnya juga di Takengon.

Setelah Binjai, selanjutnya adalah wilayah Kabupaten Langkat.. Yang paling saya ingat dari Langkat adalah Masjid Stabat yang berdiri di sebelah jembatan Sei Wampu.

Setelah melewati Stabat, hujan turun rintik – rintik yang kemudian menjadi deras. Deras sekali.

Dinginnya AC, kursi yang nyaman ditambah leg rest, hujan deras serta alunan lagu tembang nostalgia yang dicover oleh Uni Vanny Fabiola membuat saya terbawa ke alam tidur.

Saya terbangun kembali saat bus hendak melintasi Jembatan Aceh Tamiang. Jembatan ini kalau malam hari dihiasi oleh lampu LED berwarna – warni.

Dari sini saya meminta izin kepada krew di ruang kemudi untuk duduk di depan supaya mendapatkan rekaman video lebih bagus. Sebab antara ruang kemudi dengan kursi penumpang terdapat sekat yang memisahkan, jadi gak enak banget buat mengambil video.

Saya pun berkenalan dengan crew yang bertugas malam itu. Mereka adalah Pak Cik Iying sebagai driver 1, Bang Pendy sebagai helper dan Bang Deny sebagai driver 2.

Setelah Aceh Tamiang, selanjutnya adalah Kota Langsa. Disini bus sempat berhenti di terminalnya, tapi ga lama kemudian lanjut jalan lagi. Biasanya bus – bus yang ke arah Banda Aceh akan berhenti untuk istirahat di Langsa. Tapi bus ini terus melanjutkan perjalanannya, apa karena jarak tempuh ke Takengon lebih cepat dibandingkan ke Banda Aceh? Entahlah.

Selepas dari Langsa, kita memasuki wilayah Kabupaten Aceh Timur yang beribukota di Idi Rayeuk. Nah, disini kami disalip oleh Kurnia AW UHD. Pak Cik Iying sempat ingin membalasnya dengan menekan “Kick Dom” tapi tetap tidak terkejar.

Dari Langsa ini saya memperhatikan handphone Bang Deny tidak pernah berhenti berdering. Penelponnya adalah orang yang akan mengirimkan paket menggunakan jasa Bus Harapan Indah Medan Takengon.

“halo sudah sampai dimana?”

“di bla bla bla ya”

“oke bla bla bla ya”

“oke siap, ditunggu saja”

Tahu – tahu bus berhenti dan menaikan paket ke dalam bagasi bus.

Adanya pengiriman paket ini menjadi berkah bagi perusahaan otobus, sebab di masa pandemi ini berpengaruh pada jumlah penumpang yang menurun. Sementara itu untuk perjalanan Medan Takengon dibutuhkan modal sebesar Rp 1,2 juta untuk keperluan solar.

Jadi dengan harga tiket Rp 160 ribu per orangnya, setidaknya bus ini harus membawa 8 orang penumpang untuk sekedar balik modal solar.

Dari Aceh Timur kini memasuki wilayah Kabupaten Aceh Utara yang beribukota di Lhoksukon. Disini rasa kantuk kembali datang, dan saya kembali duduk manis di tempat semula kemudian tertidur pulas.

Saya sempat terbangun kembali pada saat bus mengalami guncangan waktu melalui Jalan KKA. Dari pintu sekat saya melihat kemudi kini diambil alih oleh Bang Deni.

Pertukaran sopir berlangsung di Keude Geudong, sebuah kecamatan di Aceh Utara sebelum memasuki wilayah Kota Lhokseumawe.

Oh iya, bus ini ternyata tidak melintasi Lhokseumawe – Krueng Geukuh – Simpang KKA, melainkan melewati Bukit Rata, jalan masuknya ada di samping Politeknik Lhokseumawe, katanya dengan cara seperti ini, bisa menghemat waktu 1 hingga 2 jam dibandingkan harus ke Kreung Geukuh terlebih dahulu.

Karena masih ngantuk, saya kembali tertidur. Saat terbangun bus sudah sampai di Kabupaten Bener Meriah.

Di Jamur Ujung, Bener Meriah, saya kembali ke ruang kemudi. Alamak, rasanya dingin sekali.

“ini musim hujan, kalau datangnya musim kemarau, lebih dingin lagi” kata bang Deni

“iya, bang, ini saya merekam sambil mengigil nih”

Memasuki waktu shubuh, bus berhenti di masjid yang berada di tepi jalan untuk memberikan kesempatan bagi penumpang untuk menjalankan ibadah sholat shubuh.

Setelah sholat lanjut lagi ke Takengon yang kian dekat.

Sebelum memasuki wilayah Kota Takengon, terdapat pos pemeriksaan penumpang. Jadi bagi penumpang yang berasal dari wilayah luar Aceh diharuskan menunjukkan surat bebas covid.

Bagaimana dengan saya? Saya sih siap – siap aja, kan sudah bawa surat keterangan sehat dari Puskesmas Muara Satu Lhokseumawe.

“coba kita sampainya hari sudah terang, bagus ini pemandangannya, bang” Kata Bang Deni

“ya, elu ngapain cepet – cepet bawanya, malih” gumam saya dalam hati

Tepat jam 06:00, bus tiba di Terminal Paya Ilang Takengon. Suasananya masih gelap dan tentu saja dingin karena kota ini berada di ketinggian 1.200 mdpl.

Bus Harapan Indah menjadi bus di lintas Medan – Takengon yang pertama kali sampai.

“Kita keluarnya paling belakangan, tapi kalau sampai mudah – mudahan paling duluan” kata bang Deni dengan bangga

Rasanya puas banget bisa menikmati kemewahan yang ditawarkan oleh Bus Harapan Indah Medan Takengon. Buat saya harga Rp 160 ribu sudah sesuai lah dengan pengalaman yang nyaman.

Leave a Reply