Setelah makan malam di Restoran Hameediyah, dengan perut yang kenyang dan perasaan bahagia kami berjalan kaki menuju hotel. Di perjalanan kami melintasi Restoran Nasi Kandar (tanpa nama) yang bersebelahan dengan Restoran Nasi Kandar Line Clear. Nah, di Restoran Nasi Kandar ini ada yang menarik perhatian kami yaitu ayam panggang berwarna merah yang dipajang di etalase makanan. Itu adalah Ayam Tandoori.

Baca juga : Nasi Kandar Line Clear, Murah dan Enak!
“bang, kayaknya enak deh, cobain yuk” kata Hanny
“ah, yang bener aja, kita kan baru selesai makan, masih muat emang perutnya?” jawab saya
“ayo, bang, kapan lagi, mumpung disini lho” Hanny berbelas
Ondeh, kalau begini kapan kurusnya saya.
Karena sayang istri, saya penuhi keinginannya.
“Pak Cik, berapa chicken tandoori seporsinya” sebelum beli tanya dulu dong, biar gag di pakuak, walau itu gag mungkin terjadi disini.
“9,5 ringgit (sekitar Rp 33.250), itu untuk paket lengkapnya, sudah termasuk plain naan dan kuah” kata si abang pemasak tandoori
Gila! Itu murah banget harganya. Di Jakarta, harga untuk menikmati penganan khas Punjab India ini lumayan mahal, ayamnya doang dijual dengan harga mulai dari Rp 90 ribuan, sedangkan untuk plain naan-nya mulai dari Rp 32 ribu. Info ini saya dapati setelah melihat menu – menu yang ada di Restoran India Jakarta via aplikasi Zomato.
Benar kata Hanny tadi, mumpung disini. Ayo dicoba!
“bolehlah, Pak Cik, saya pesan satu, take away ya”
Si Pak Cik keturunan India ini langsung menyalakan api untuk tandoori-nya. Jadi tandoori itu adalah sejenis oven tradisional berbentuk silinder yang terbuat dari tanah liat. Proses memasak ayam-nya menggunakan tandoori itulah mengapa ia disebut chicken tandoori atau ayam tandoori.
Awalnya adonan untuk naan dibentuk sedemikian rupa sampai pipih. Naan ini bisa dimasak dengan cara digoreng dengan sedikit minyak atau dipanggang dalam oven (tandoori). Roti ini mengandung pengembang sehingga saat dipanggang teksturnya menjadi kering, tidak berminyak dan menggembung di beberapa bagian.

Setelah memasak naan, si Pak Cik memanggang ayam tandoori yang berwarna merah menyala. Sebenarnya ayam tandoorinya ini sudah matang, tapi di panggang lagi biar disajikan dalam keadaan hangat.


Cara pembuatan ayam tandoori secara singkat ialah daging ayam yang di ungkep bersama dengan susu asam kental yang telah diberi bumbu seperti garam, bawang putih, jahe, cabai, kunyit dan aneka lada India. Jadi gag heran kalau warnanya begitu merah.
Setelah selesai masak naan dan ayam tandoori, Pak Cik mau langsung bungkus pesanan kami itu. Tapi saya meminta untuk dihidang dalam piring supaya cantik untuk difoto. Usai difoto barulah dibungkus. Pak Cik-nya sangat kooperatif, terima kasih ya.
Kami memakan ayam tandoori ini setelah tiba di kamar hotel. Awalnya kami mengira cita rasa dari ayam ini pedas, namun ternyata ga pedas – pedas amat. Mungkin menyesuaikan dengan lidah wisatawan.
Dalam seporsi ayam tandoori ini juga dilengkapi dua kuah, yaitu kuah kari dan kuah mint. Saya lebih suka menyantapnya dengan mencelup daging ayamnya ke kuah mint terlebih dahulu, kuah mint-nya ini memiliki cita rasa manis dengan sensasi dingin di mulut.
Puas rasanya bisa mencicipi makanan ini, kalau di Jakarta, saya akan mikir ribuan kali untuk membelinya. Kecuali kalau ditraktir ya, hehe..