Sate merupakan salah satu kekayaan kuliner yang dimiliki oleh Indonesia. Dimana – mana kita bisa dengan mudah menjumpai orang yang menjual sate. Selain Sate Padang dan Madura, saya juga mencantumkan Sate Matang Aceh sebagai daftar sate kesukaan saya.
Tiap kali kunjungan saya ke Aceh, saya selalu menyempatkan untuk menyantap Sate Matang. By the way, dinamakan Sate Matang bukan karena daging satenya sudah matang, namun sate ini berasal dari daerah Matang Glumpangdua yang masuk ke wilayah Kabupaten Biereun.
Baca juga Episode sebelumnya : Mudik ke Aceh Via Kuala Lumpur
Saat perjalanan dari Banda Aceh menuju Lhokseumawe, pastinya melewati Matang Glumpangdua, disini nampak terlihat kepulan asap dari arang yang membakar potongan dadu daging kambing maupun sapi dalam tusukan bambu.
Sayangnya saat melintasi Matang, kondisinya masih dalam waktu puasa. Sehingga Matang kami lalui begitu saja tanpa singgah terlebih dahulu.
Dua hari setelah lebaran, kami berencana untuk bersilaturahim dengan sanak keluarga yang ada di Biereun. Artinya kami akan melewati Matang kembali.
Berbeda dengan Banda Aceh yang mana saat libur lebaran, banyak kedai makanan yang tutup beroperasi. Di Matang Biereun, sepanjang jalan kedai makanan tetap buka melayani pelanggannya.
Tiba di Matang, kami singgah di Warung Kopi Sudi Mampir yang menyediakan menu Sate Matang. Jika dilihat sekilas, warung satu ini punya pelanggan yang ramai, buat parkir mobil saja susah.

Setelah memarkirkan mobil, kami segera mencari tempat duduk yang ketika itu masih terisi penuh. Muke gile!
Untungnya saat itu juga ada rombongan keluarga yang telah menyelesaikan acara makannya. Kami pun duduk di tempat yang tersedia dan memesan sate matang empat porsi. Untuk minumnya saya memesan es timun sirup.

Karena suasananya yang ramai, kami harus menunggu pesanan datang. Sambil menunggu, saya asik melihat tempat orang meracik Sate Matang.

Jadi sate matang ini dibuat dari daging kambing atau sapi (kalau ditempat kami makan, menggunakan daging kambing), dagingnya ini kemudian dipotong – potong , lalu dilumuri bunbu yang kaya akan rempah – rempah. Selanjutnya dibakar di atas bara arang sekitar 10 – 15 menit.

Yang menarik dalam penyajian sate ini adalah para pembuatnya akan membanting botol kecap ke atas meja ketika akan menghidangkan sate.

Gubrak.. Gubrak.. Gubrak! Bunyi botol yang dibanting di atas meja. Rasanya pengen ngomong “santai dong mas!”
Rupanya aksi membanting botol kecap ini menjadi daya tarik dari penyajian sate ini. Banyak pelintas yang berkunjung karena penasaran, dan lain sebagainya.
Kuah Soto Pelengkap Sate Matang
Akhirnya pesanan kami mendarat di atas meja, dari bentuknya sudah sangat menggoda. Sate Matang Aceh tidak hanya disajikan dengan bumbu kacang saja, tetapi juga dilengkapi dengan kuah soto. Ini yang membedakan Sate Matang Aceh dengan sate – sate lainnya yang ada di Indonesia.

Kuah sotonya, biasanya menggunakan biasanya menggunakan kaldu daging sapi atau kambing yang dimasak dengan bumbu khusus. Di dalam kuah soto ini biasanya terdapat potongan lemak daging dan juga kentang.
Jadi kebayang dong gimana rasanya?
Dari segi rasa, Sate Matang memiliki rasa manis yang berpadu dengan kuah soto yang gurih.
Saya telah mencicipi sate khas Biereun ini di tiga tempat yang berbeda, dan bagi saya olahan Warung Sudi Mampir inilah yang paling lezat. Kuah sotonya bikin nagih.
Baca juga : Roti Samahani Terenak di Aceh Ada di Warkop Dua Saudara, Aceh Besar
Panas ditimbulkan dari daging kambing, bisa dipulihkan dengan es timun sirup. Tapi saran saya jika anda pesan es timun ini, bilang ke orangnya “gulanya sedikit aja, bang” . Karena di Aceh ini rasa minuman begitu manis. Duh, gigi saya sampai nyut – nyutan saking manisnya.
Harga
Harga per porsi sate ini adalah Rp 30.000*, atau Rp 3.000* per tusuknya, harga ini sudah termasuk kuah sotonya. Biar kenyang tentunya ga lengkap tanpa nasi yang dihargai Rp 5.000*
Kayaknya kalau tahun depan ke Lhokseumawe lagi, saya bakalan mampir lagi ke Warung Sudi Mampir ini, rasanya itu ngangenin!
Note : * Harga per tahun 2019, harga bisa saja berubah.
Cerita bersambung : Menyaksikan Keindahan Danau Laut Tawar dari Pantan Teron
[…] Baca juga : Sambal Matang Terenak di Aceh, Ada Disini! […]