(+62) 897-7257-136 contact@triptofun.id

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Birth Date*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.
Please agree to all the terms and conditions before proceeding to the next step

Already a member?

Login
(+62) 897-7257-136 contact@triptofun.id

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Birth Date*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.
Please agree to all the terms and conditions before proceeding to the next step

Already a member?

Login

Cerita Dari Belitung Barat ke Belitung Timur PP

belitung barat ke belitung timur

Tulisan kali ini tidak ada teknis SEO sama sekali, karena saya sedang tidak mendeskripsikan tentang obyek wisata ataupun tempat kuliner.

Tulisan ini ialah bagian dari cerita saat kami menjelajahi Belitung Maret 2020 lalu, dan rasanya sayang banget jika tidak dituliskan karena ini merupakan bagian dari perjuangan kami dalam usaha membuat perusahaan travel online berbasis website.

Setelah cukup sukses membangun website JelajahSumbar.Com, kami tertarik untuk mencoba membuat website travel yang lebih luas lagi yang kami beri nama triptofun.id

Saya sebagai penulis konten masih berkeyakinan kalau konten yang dibuat dengan sungguh – sungguh nantinya akan berbuah manis. Seperti yang telah saya dedikasikan untuk JelajahSumbar. Sampai saat ini apa yang dituliskan untuk JelajahSumbar dan Triptofun adalah cerita nyata dalam artian saya sungguh – sungguh berada di lokasi yang saya ceritakan. Mengambil foto dan merangkainya hingga menjadi sebuah tulisan yang semoga bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi siapapun yang membacanya.

Well, masuk ke bagian cerita.

Liburan di Belitung kali ini saya tidak sendiri melainkan bersama istri dan anak yang baru berumur 2 tahun. Saya memang selalu berusaha untuk mengajak mereka kemana pun saya pergi. Liburan terakhir kami adalah waktu libur tahun baru 2020 di dataran tinggi Dieng.

Dari pegunungan sekarang kami ke pulau yang dikeliling pantai.

Kami menginap di Hotel Central City 2 yang lokasinya berdekatan dengan Kawasan wisata Pantai Tanjung Pendam. Bisa dikatakan ini adalah ujung dari Belitung Barat.

Di hari kedua kami di Belitung, agenda kami adalah menjelajahi Belitung Timur. Dan yang menjadi obyek wisata terakhir yang akan kami kunjungi adalah Pantai Serdang yang lokasinya ada di ujung Belitung Timur.

Di lihat dari Google Maps, jarak antara Pantai Tanjung Pendam dan Pantai Serdang ini sekitar 85 kilometer. Bahkan bisa saja lebih karena kami harus berbelok terlebih dahulu ke Gantong untuk melihat Replika SD Muhammadiyah Gantong dan Museum Kata Andrea Hirata.

Sebelum benar – benar beranjak ke Belitung Timur, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi Danau Kaolin. Obyek wisata yang sebenarnya merupakan luka bumi yang tak terperi karena pertambangan.

Baca juga : Danau Kaolin, Luka yang Jadi Wisata

Selepas dari Danau Kaolin kami langsung ngegas ke Gantong. Kami melewati Jalan Badau, lalu Simpang Ranggiang dan berbelok ke arah Gantong.

Meski berada di sebuah pulau, namun kondisi jalannya sangat baik. Setelah industri pertambangan mulai kembang kempis, Belitung kemudian memutar haluan kepada industri pariwisata dengan mengandalkan pesona baharinya ditambah dengan bumbu cerita Laskar Pelangi yang mengugah asa.

Salah satu penunjang dari keberhasilan sebuah industri pariwisata adalah kemudahan akses. Jalan penghubung antara Belitung Barat dan Belitung Timur dibuat sangat bagus. Sehingga memanjakan siapapun yang melintas diatasnya.

1,5 jam perjalanan dari Tanjung Pandan, akhirnya kami tiba di Gantong. Tujuan kami tentu saja mengunjungi Replika SD Muhammadiyah Gantong dan Museum Kata. Sayangnya setiba disana, kedua objek wisata ini ditutup. Ya, kami datang di waktu yang kurang tepat. Mungkin lebih tepatnya kami ini kurang beruntung.

Penutupan objek wisata ini dalam rangka pencegahan penyebaran dan penularan Virus Covid-19. Siapa sangka virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan China ini akhirnya sampai di negeri kita.

Saya melihat beberapa mobil 4WD milik kepolisian setempat berpatroli untuk memastikan tidak ada kerumunan di obyek – obyek wisata.

Dari Gantong kami beranjak ke Manggar, Ibukota dari Kabupaten Belitung Timur. Kami melewati Kampong Ahok yang kini telah berubah nama menjadi Kampong Fifi. Ah apa efeknya? Siapa Fifi itu? Punya pengaruh apa sehingga berani mengubah nama Ahok? Tanya saya dalam hati sambal terus menekan tuas gas.

Tepat tengah hari, kami tiba di Manggar. Kami langsung menuju tempat makan untuk makan siang. Awalnya kami ke Rumah Makan Fega yang populer di kalangan wisata, namun ternyata hari itu tidak beroperasi. Tidak adanya wisatawan efek dari Virus Corona membuat rumah makan ini memilih untuk tutup sementara waktu.

Kami pun singgah di Warkop dan Seafood Sari Dini yang berada persis di sebelahnya. Kami singgah disini untuk mengisi perut yang kosong.

Baca juga : Warkop Sari Dini Manggar

Setelah santap siang, kami menuju ke obyek wisata Pantai Serdang yang berjarak hanya 1 kilometer saja dari tempat kami makan.

Kami pun tiba di Pantai Serdang yang memiliki pasir pantai yang putih dan dihiasi oleh jejeran pohon pinus yang membuat suasana pantai ini adem.

Baca juga : Pantai Serdang Belitung Timur

Di siang menjelang sore itu, kami telah menempuh perjalanan lebih dari 90 kilometer! Kami istirahat sejenak disini. Sebenarnya dibilang istirahat tidak tepat, sebab Fawwaz langsung mengajak saya bermain pasir.

Tepat jam 4 sore, kami akhiri kunjungan di Pantai Serdang ini. Sebenarnya masih ada satu lagi pantai yang ingin dikunjungi yaitu Pantai Burung Mandi, namun istri saya khawatir jika kesana nanti pulangnya kemalaman. Apalagi jalan di Belitung itu kondisinya sepi banget. Siang aja sepi apalagi malam. Melewati hutan, perkebunan sawit dan lada, perkampungan lalu hutan, kebun sawit lagi dan seterusnya.

Kami pun kembali ke Tanjung Pandan.

Kondisi cuaca di sebuah pulau kecil itu cenderung labil. Dari pagi hingga siang cuacanya begitu cerah namun di sore hari bisa saja tiba – tiba hujan deras.

Di tengah perjalanan, saat kami telah memasuki wilayah Desa Badau. Awan mendung menggantung di atas langit. Saya terus menarik tuas gas lebih dalam lagi, berharap hujan belum turun hingga kami sampai di Tanjung Pandan.

Namun, rintik – rintik hujan mulai turun. Kami memberhentikan diri, di bagasi motor matic yang kami sewa ini tersedia jas hujan. Setelah mengenakan jas hujan tipe kalong ini, kami melanjutkan perjalanan. Baru saja kembali berjalan, tiba- tiba saja hujan turun dengan derasnya.

Kami tidak berani untuk terus berjalan, dan kami memutuskan untuk berteduh terlebih dahulu. Masalahnya kami tidak ada tempat untuk melakukan itu. Dengan terpaksa kami terus berjalan dibawah guyuran hujan hingga akhirnya kami menemukan sebuah warung yang memiliki teras untuk berteduh.

Saat itu warung sedang tutup. Seharusnya tidak menjadi masalah kami berteduh disini. Namun ternyata pemilik warung ini memelihara banyak anjing! Setidaknya ada 4 ekor anjing. Satu ekor anjing berwarna hitam sedang asik tidur tempat disebelah kami berteduh.

Sedangkan 3 ekor lainnya ada di belakang yang salah satu ekor diantaranya menyalak terus – menerus seperti tidak menerima kedatangan kami. Ia terus menggonggong tanpa bosan, tapi ia tidak sampai menghampiri kami, bisa berabe urusan kalau sampai ia mendekati kami!

Di tengah hujan deras dan kondisi yang kurang menyenangkan ini, saya terus berdo’a semoga perjalanan kami yang menjadi bagian dari perjuangan membangun usaha travel ini akan membuahkan hasil di masa depan. Entah esok, lusa, atau tahun depan?

Hujan belum juga mau berhenti, tiba – tiba saja ada satu ekor lainnya yang memberanikan diri mendekati kami. Tapi kayaknya anjing yang ini cenderung ramah.

Saya memberikannya makanan dan ia pun melahapnya.

Hujan akhirnya mulai mereda walau tidak sampai berhenti sepenuhnya. Kami langsung bergegas untuk kembali melanjutkan perjalanan. Meninggalkan anjing – anjing yang tadinya sempat membuat khawatir.

Desa Badau telah terlewati dan kami kini sudah berada di Jalan Sudirman. Kalau sudah sampai di jalan ini sudah agak lega karena kondisi jalan cukup ramai dan tak lama lagi kami akan sampai di pusat kota Tanjung Pandan.

Akhirnya kami sampai kembali di hotel dengan selamat. Terima kasih sudah berkenan untuk membaca cerita ini.

Leave a Reply