Kawah Sikidang Dieng yang Overdosis Spot Foto

kawah sikidang banjarnegara

Banyak tempat wisata kini diciptakan atau dimodifikasi demi melayani gairah memotret dan tren media sosial. Kawah Sikidang Dieng adalah salah satu buktinya.

Rinai hujan yang turun di pagi menjelang siang kala itu tidak menyurutkan langkah kami untuk mengunjungi Kawah Sikidang. Kawah ini menjadi tujuan terakhir dari eksplore Dieng yang kami lakukan selama 3 hari 2 malam.

Baca juga : Panduan Lengkap Cara Menuju Dieng dari Jakarta

Tepat di depan gapura tempat pembelian tiket masuk, banyak yang menjual masker. Tapi tidak kami hiraukan karena memang kami telah menyiapkan masker sebelum ke Dieng.

Seorang wanita petugas loket memberhentikan kami. Kami memperlihatkan tiket terusan yang kami beli sewaktu mengunjungi Candi Arjuna kemarin. Jadi untuk mengunjungi Kawah Sikidang dan Candi Arjuna, wisatawan cukup membeli tiketnya satu kali saja seharga Rp 15 ribu.

Setelah itu kami terus melajukan motor hingga ke area parkir. Secarik karcis parkir diberikan ke kami, di kertas berukuran mini ini tertera nilai rupiah yang harus kami bayar untuk parkir disini yakni sebesar Rp 3 ribu.

“bayarnya nanti saja waktu keluar, mas” kata seorang bapak dengan rambutnya yang digerai Panjang hingga sebahu.

Sementara itu seorang pria pengendara motor dengan plat nomor lokal nampak sedang memprotes tarif Rp 3 ribu ini.

“biasanya Rp 2 ribu” protes pengendara itu

“ini lihat di kertasnya” sergah penjaga parkir

Kami berlalu menyaksikan pemandangan tersebut.

Aroma belerang yang khas langsung menyambut kedatangan kami. Langsung saja kami mengenakan masker yang telah kami bawa.

Untuk masuk ke kawasan Kawah Sikidang, kami harus melewati lorong pasar yang ditempati oleh penjual aneka oleh – oleh khas Dieng. Di pintu masuk sebenarnya ada gerbang kecil yang hanya bisa terbuka setelah kita menscan barcode pada tiket. Tapi sepertinya gerbang ini telah rusak dan tidak bisa digunakan sebagai mana mestinya.

Melewati lapak – lapak pedagang saat hendak memasuki kawasan Kawah Sikidang

Kami pun telah berada di dalam kawasan Kawah Sikidang

Alangkah kagetnya saya ketika menyaksikan Kawah Sikidang saat ini telah dipenuhi oleh banyak sekali spot – spot foto kekinian. Saking banyaknya untuk tempat wisata yang menjual bentukan proses geologi berupa kawah, saya menganggapnya ia telah overdosis dengan spot foto.

Wisatawan mengunjungi Kawah Sikidang Dieng di liburan akhir tahun

“ini harus diatur, tidak bisa ia dibiarkan seperti ini” gumam saya dalam hati

“tapi ini kan urusan perut, tur. Apa bisa semudah itu?”

Saya teringat semasa 6 tahun lalu ketika pertama kalinya saya mengunjugi Kawah Sikidang. Kala itu tempat ini masih bersih dari spot – spot foto yang mengada – ada itu.

Kamu mau foto dimana? Tinggal pilih!

Pengunjung kesini hanya menikmati proses alami dari Kawah Sikidang yang terbilang unik.

“disebut dengan Kawah Sikidang, sebab kawah utama di kawasan ini selalu berpindah – pindah. Kawah yang berpindah – pindah ini hampir mirip dengan sifat kijang yang senang melompat kesana kemari” kata Khoirul, pemandu lokal yang saat itu menemani kami

“ayo bang, lanjut lagi, ngapain bengong disini?” kata istri saya yang mengembalikan saya ke masa kini

Saya mencoba “memaksakan” diri untuk menikmati Kawah Sikidang zaman now. Meski hati ini terus gelisah melihat kenyataan yang ada.

Mungkin saya amat lebay menanggapi kondisi Kawah Sikidang saat ini, buktinya tetap saja banyak wisatawan yang datang kesini.

Lokasi Kawah Sikidang berdekatan dengan obyek wisata Candi Arjuna, selain itu lokasinya berada di dataran yang cenderung landai. Sehingga pengunjung dapat dengan mudah melihat langsung fenomena alam yang sulit untuk disaksikan di kawah lainnya yang ada di Dieng.

Photobooth yang sangat mengganggu mata saya pertama kalinya ialah hutan mati buatan yang didepannya dipasang nama objek wisata berukuran gigantik dengan warna – warni yang norak. Si operator photobooth ini, entah apa yang merasukinya “menanam” batang pohon – pohon yang telah mati sehingga terlihat seperti hutan mati yang ada di kawasan Gunung Papandayan. Mau foto disini, anda harus membayar Rp 5 ribu kepada operator.

Hutan mati buatan

Selain itu ada panggung – panggung yang terbuat dari bambu yang dicat aneka warna, dibuat artistik sesuai selera lokal. Papan berbentuk kupu – kupu, mobil offroad dan banyak lagi.

Photo booth lope – lopean
Kalau bukan karena rengekan Fawwaz, saya tak mau foto begini

“bum, bum, bum” Fawwaz merengek ketika melihat salah satu mobil offroad yang teronggok

“ayo, mas, silahkan, Rp 30 ribu sudah dapat foto langsung jadi, boleh dimintain foto – foto sepuasnya” kata si operator

“wah, kemahalan, mas. Kami mau naik aja, tapi bantuin foto ya!” jawab saya

“boleh, mas. Kalau naik aja Rp 5 ribu per orangnya, sini tak bantuin foto”

Setelah mengambil foto beberapa kali, saya menyudahinya, meski Fawwaz masih asik memainkan setir. Sebab banyak juga wisatawan lain yang berminat berfoto di mobil offroad ini.

Kami terus mengayunkan langkah menuju ke kawah utama. Rupanya selain photobooth yang sudah overdosis, “keanehan” lainnya kami temukan kembali yaitu adanya wahana flying fox. Kenapa kami katakan aneh? Karena bagaimana mungkin ada wahana ini di tempat yang notabene sangat sarat kandungan belerang yang memiliki sifat asam, dikhawatirkan dapat menimbulkan korosi pada sling baja lintasan flying fox.

Wahana flying fox di tempat dengan kadar belerang tinggi, opo ra gendeng?

Pada bagian kawasan yang datar, terdapat penyedia jasa sewa motor trail, ada juga motor ATV, sayangnya operator ini tidak begitu peduli dengan keselamatan penyewanya. Terlihat anak – anak dibiarkan mengendarai ATV. Bergidik saya melihatnya.

Penyedia jasa sewa motor trail
Anak – anak mengendarai ATV

Kawah Utama Sikidang

Dikarenakan asap belerang dari kawah utama begitu pekat, saya meminta agar istri dan anak menunggu saya di bawah. Sementara itu saya terus melanjutkan langkah untuk mendekati kawah utama.

Dengan kondisi asap belerang yang baunya sangat menyengat, saya pikir sudah tidak ada lagi photobooth. Rupanya saya salah, masih ada saja orang yang memasang photobooth demi meraup pundi rupiah. Benar – benar kacau!

Masih ada photobooth sekalipun mendekati kawah utama
Photobooth lainnya di dekat kawah utama

Untuk melindungi pengunjung, pengelola telah memasang pagar di tepian kawah. Demi keselamatan, pengunjung tidak diperkenankan melewati pagar tersebut. Karena suhu di permukaan kawah utama mencapai 80 – 90 derajat Celcius. Panasnya mirip – mirip air mendidih. Bisa dibayangkan?

Kawah utama Sikidang

Rupanya panas pada permukaan kawah tersebut dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk menyediakan jasa merebus telur. Saya tidak tahu berapa harga untuk jasa ini, sebab saya tidak berani mencobanya, khawatir telur yang direbus tersebut terkontaminasi dengan belerang.

Seperti alat pancing, tapi itu adalah tangkai untuk merebus telur atau mengambil air belerang

Belerang merupakan zat yang bermanfaat bagi kesehatan kulit, hal ini dimanfaatkan juga oleh orang yang sama (perebus telur). Ia menawarkan jasa untuk mengambil air belerang langsung dari kawah utama. Untuk jasa ini tarifnya seikhlasnya saja.

Terpal – terpal Lapak Pedagang

Kami meninggalkan kawah utama, kemudian beranjak keluar dari kawasan Kawah Sikidang. Untuk keluar, kami harus melewati lorong – lorong yang tercipta dari terpal – terpal lapak pedagang.

Beragam dagangan yang mereka tawarkan ada kaos – kaos dengan motif khas Dieng, buah carica yang telah dikemas dalam bentuk manisan, kentang, anek sayuran, keripik dan banyak lagi. Ada satu lapak yang menarik perhatian kami yaitu lapak yang menjual sagon bakar. Satu buahnya dijual dengan harga Rp 5 ribu, kami membelinya dua buah. Rasanya enak dan cocok sebagai pengganjal perut di kala lapar.

Kami singgah di lapak penjual Kue sagon bakar khas Dieng

Kesan Setelah Mengunjungi Sikidang

Saya paham betul maksud daripada operator – operator di kawasan ini memasang beragam aneka tempat untuk berfoto atau photobooth, tujuannya tidak lain dan tidak bukan ialah untuk menarik minat kunjungan wisata. Namun jumlahnya yang terlalu amat banyak dikhawatirkan dapat mengubah dan merusak kelestarian alam.

Apalagi photobooth-nya dibuat sangat mengada – ada, instan dan cenderung serampangan.

Di kalangan wisatawan lokal mungkin masih menyukainya, namun untuk wisatawan mancanegara yang cenderung selektif yang telah kesini, kemungkinan besar tidak akan merekomendasikan Kawah Sikidang untuk dikunjungi kepada rekan – rekannya.

Selain keberadaan photobooth, masalah lainnya adalah penataan kios pedagang kaki lima yang begitu banyak, tidak tertata dan menimbulkan kesan kumuh. Lihat aja foto terpal – terpal lapak pedagang di bawah ini, bagaimana menurut mu?

Terpal pedagang kaki lima yang nampak semrawut
Untuk keluar dari kawasan kawah, kami harus melewati lapak – lapak pedangan kaki lima

Pada tahun 2017, Kadispar Kabupaten Banjarnegara, Dwi Suryanto dalam perbicangannya dengan Kompas Travel mengatakan dalam waktu dekat telah berkoordinasi dengan operator untuk bersedia membongkar wahana yang tidak berizin di Kawasan Sikidang.

Nyatanya hingga saat ini?

Memang agak rumit masalahnya jika sudah berhadapan dengan perut yang harus terus diisi tiap harinya.


Informasi Layanan Kawah Sikidang

Kawah Sikidang dibuka untuk umum setiap hari dari jam 07.00 WIB sampai 16.00 WIB. Tiket masuk ke tempat wisata ini merupakan tiket terusan dengan Kompleks Candi Arjuna. Harga tiket tersebut Rp 15.000 per orang.

You may also like...

(2) Comments

  1. Tuk Bima Lukar Dieng Yang Kian Terus Berbenah – Triptofun

    […] Baca juga : Kawah Sikidang, Masih Layak kah untuk Dikunjungi? […]

  2. Kue Sagon Bakar Rangin, Teman Nyemil di Dieng yang Dingin – Triptofun

    […] Baca juga : Kawah Sikidang, Overdosis Spot Foto! […]

Comments are closed.