(+62) 897-7257-136 contact@triptofun.id

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Birth Date*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.
Please agree to all the terms and conditions before proceeding to the next step

Already a member?

Login
(+62) 897-7257-136 contact@triptofun.id

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Birth Date*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.
Please agree to all the terms and conditions before proceeding to the next step

Already a member?

Login

Wisata Religi Cirebon – Masjid Merah Panjunan

wisata religi masjid merah panjunan

Di Cirebon terdapat sebuah kampung yang disebut sebagai Kampung Arab. Secara administratif lokasinya berada di Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Di kampung ini berdiri sebuah masjid bersejarah yang dinamakan Masjid Merah Panjunan.

Lokasi Masjid Merah Panjunan ini berdekatan dengan salah satu spot kuliner populer Cirebon yaitu Mie Koclok Panjunan, jarak keduanya hanya 50 meter saja. Jadi jika mengunjungi Panjunan, kita akan mendapatkan wisata religi juga wisata kuliner.

Baca juga : Enaknya Mie Koclok Panjunan yang Legend Banget!

Hampir tiap kali ke Cirebon, kami selalu sempatkan untuk singgah ke Panjunan dengan tujuan menikmati seporsi Mie Koclok yang ada disana. Meski Mie Koclok ini mudah ditemukan di Cirebon tapi hati kami tetap jatuh cinta dengan yang ada di Panjunan.

Biasanya setelah kenyang menikmati Mie Koclok, kami menyempatkan diri singgah ke Masjid Merah Panjunan baik untuk shalat wajib atau sekedar shalat tahiyatul masjid.

Sejarah Masjid Merah Panjunan

Masjid yang memiliki luas sekitar 150 meter persegi ini dibangun pada abad ke-15 tepatnya pada 1480 Masehi. Informasi ini bisa kita lihat di papan informasi yang berada di depan pintu masuk ke masjid, meski papan ini sudah nampak usang dan harus diganti dengan yang

Bangunan masjid yang hampir seluruh bagiannya adalah batu bata merah itu, konon dibangun hanya dalam tempo waktu semalam.

Masjid ini dibangun oleh murid Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, yaitu Syekh Abdurakhman atau yang dikenal dengan Pangeran Panjunan. Versi lain menyebutkan, Masjid Merah Panjunan dibutlat oleh Sunan Gunung Jati dibantu oleh para wali dan murid-muridnya.

Masjid ini pernah menjadi tempat berkumpul wali sanga untuk berdakwah menyebarkan agama Islam. peran dari Masjid Merah Panjunan memiliki fungsi bukan saja menjadi tempat ibadah, tetapi juga sebagai tempat upacara pengabsahan atau pengangkatan seorang wali oleh Sunan Gunungjati.

Sebelum menjadi masjid, bangunan itu merupakan musala berukuran 40 meter persegi bernama Al-‘Athiyya atau berarti pemberian atau cinderamata. Semula, musala itu menjadi tempat mukim bersama para imigran dari keturunan Arab, Baghdad dan Tiongkok.

Keunikan lain di Masjid Merah Panjunan adalah, masih menggunakan metode perhitungan jam matahari atau Istiwa untuk menentukan waktu masuk salat.

Arsitektur Masjid Merah Panjunan

Arsitektur bangunan Masjid Merah Panjunan sendiri mengandung perpaduan etnik Tiongkok, Jawa, dan Arab. Di bagian dinding-dinding tembok tertanam ornamen piring dan mangkok. Ornamen tersebut diriwayatkan sebagai hadiah atas pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Ratu Nyi Hong Tien Nio.

Di bagian utama dalam masjid memiliki 17 pilar utama utama, yang menandakan jumlah keseluruhan rakaat salat lima waktu.

Tiang masjid merah yang berjumlah 17 menandakan jumlah rakaat shalat dalam satu hari

Pilar-pilar yang tersambung itu sama sekali tidak menggunakan alat perekat seperti paku atau semacamnya. Namun demikian, pilar-pilar kayu itu terlihat sangat presisi, terukur, dan kokoh hingga saat ini.

Di bagian atapnya menggunakan lembaran potongan kayu trembesi, yang konon dibawa dari Syekh Lemah Abang yang mengerti betul tentang kayu.

 

Akulturasi Budaya

Bangunan Masjid Merah Panjunan merupakan sebuah wujud dari akulturasi budaya Islam, Cina dan Arab.

Unsur budaya Islam terlihat dari fisik dan fungsi masjid, terlihat pada mimbar, mihrab, tempat wudhu, dan beberapa ragam hias kaligrafi yang terlihat di tiang dan blandar.

Mihrab masjid

Unsur budaya Jawa terlihat pada arsitektur masjid ini, yaitu dengan adanya tajug dan limasan.

Gapura Masjid Merah Panjunan

Sementara itu, pengaruh dari China adalah penggunaan beberapa keramik produksi Tiongkok untuk hiasan tempel, dan penggunaan bahan sirap seperti pada bangunan khas China. Makna-makna filosofis dan simbol-simbol di Masjid Merah Panjunan merupakan pengaruh Hindu. Tentu saja kemudian makna filosofis dan simbol itu disesuaikan dengan ajaran Islam.

Porselen khas Cina yang menempel di dinding masjid

Info Lainnya

Dalam sebuah catatan sejarah yang mengacu pada Babad Tjerbon, nama asli Pangeran Panjunan adalah Maulana Abdul Rahman. Dia memimpin sekelompok imigran Arab dari Baghdad. Sang pangeran dan keluarganya mencari nafkah dari membuat keramik. Sampai sekarang, anak keturunannya masih memelihara tradisi kerajinan keramik itu, meski kini lebih untuk tujuan spiritual ketimbang komersial.

Ada sebuah legenda bahwa keramik Tiongkok itu merupakan bagian dari hadiah kaisar China ketika Sunan Gunung Jati menikahi putri sang kaisar yang bernama Tan Hong Tien Nio. Adanya hubungan dengan Tiongkok sejak zaman Wali Songo itu juga ditunjukkan dengan keberadaan Vihara Dewi Welas Asih, sebuah wihara kuno dengan dominasi warna merah yang berdiri tak jauh dari masjid.

Mushala Al-Athiyah— tumbuh dengan berbagai pengaruh, seperti juga semua keraton yang ada di Cirebon. Bangunan lama mushala itu berukuran 40 meter persegi saja, kemudian dibangun menjadi berukuran 150 meter persegi karena menjadi masjid. Pada tahun 1949, Panembahan Ratu (cicit Sunan Gunung Jati) membangun pagar Kutaosod dari bata merah setebal 40 cm dengan tinggi 1,5 m untuk mengelilingi kawasan masjid.

Keunikan lain dari struktur bangunan adalah bagian atap yang menggunakan genteng tanah warna hitam dan hingga kini masih dijaga keasliannya. Namun sayangnya, beberapa keramik yang ada di tembok pagar ada yang sudah dicukil oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, terutama yang ada pada bagian pagar temboknya.

Sedikit “Penyakit”

Terus terang, saya agak berat saat menuliskan bagian ini namun saya merasa harus memberikan informasi bagi anda yang tertarik untuk mengunjungi masjid ini.

Tiap kali menyambangi Masjid Merah Panjunan, selalu saja ada bapak – bapak dan ibu – ibu yang duduk – duduk di teras masjid. Tampilan ibu – ibu tidak islami, menggunakan daster tanpa jilbab. Sedangkan yang bapak – bapak sedikit “islami” menggunakan baju koko yang sudah lusuh dan berpeci.  Dari segi fisik mereka masih terlihat sehat. Tujuan mereka adalah mengharapkan “sedekah” dari pengunjung atau jamaah Masjid Merah.

Salah satu diantara mereka akan mendekati jamaah dan to the point saja meminta uang

“Mas, mbak, saya sudah bersih – bersih masjid ini lho, minta uang seikhlasnya” kata salah seorang diantara mereka

Dan jika anda memberi uang kepada salah satu diantara mereka, langsung saja yang lainnya akan mengerubungi anda!

Pengalaman ini benar – benar terjadi pada kami.

Karena sudah terpojok, kami memberi kepada seorang ibu uang sebesar Rp 5 ribu. Tiba – tiba saja pengemis lainnya mengerubungi kami, kami beri Rp 2 ribu.

“mas yang ini juga dong” kata si ibu yang sudah saya kasih Rp 2 ribu sambil menarik perempuan muda (entah apa hubungan diantara mereka kedua)

“gak ada lagi, saya kan sudah kasih ke ibu itu”

“mas kasih berapa ke dia?”

“Rp 5 ribu” jawab saya sambil segera ngacir supaya gag direbutin lagi.

Beruntung bagi kami, sebab pada saat yang bersamaan datang rombongan lain dengan tujuan mengambil air yang berasal dari sumur masjid ini. Menurut kepercayaan mereka, air tersebut bisa membawa berkah. Perhatian para pengemis ini pun teralihkan.

Jadi, sedikit hati – hati aja jika kesini ya. Abaikan saja orang – orang yang ada di teras itu. Jangan diajak ngobrol, cuek aja.

 

Sumber Referensi

  1. Masjid Dari Lima Abad Silam
1 Response

Leave a Reply