(+62) 897-7257-136 contact@triptofun.id

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Birth Date*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.
Please agree to all the terms and conditions before proceeding to the next step

Already a member?

Login
(+62) 897-7257-136 contact@triptofun.id

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Birth Date*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.
Please agree to all the terms and conditions before proceeding to the next step

Already a member?

Login

Mengenal Rumah Adat Belitung di Tanjung Pandan

rumah tradisional belitung

Jika kamu berkunjung ke suatu daerah, apa saja yang kamu lakukan selain jalan – jalan? Adalah sebuah kerugian jika telah mengunjungi suatu daerah tanpa mengenal budayanya. Banyak cara untuk melakukan itu salah satunya adalah mengunjungi rumah adatnya.

Tentu saja setiap daerah di Indonesia memiliki rumah adatnya masing – masing. Bentuknya sangat beragam, unik dan selalu ada makna filosofis yang terkandung di dalamnya.

Kalau kamu berkesempatan mengunjungi Sumatera Barat, di sepanjang perjalanan kamu dapat dengan mudah melihat rumah dengan atapnya yang menyerupai tanduk kerbau atau biasa dikenal dengan sebutan Rumah Gadang.

Bagaimana dengan Belitung?

Sejujurnya memang agak sulit untuk menemukan rumah tradisional khas Belitung yang asli. Saat ini rumah – rumah yang dibangun sudah seperti rumah yang ada di perkotaan.

Namun jika kamu penasaran dengan bentuk Rumah Adat Belitung, kamu bisa mengunjunginya di Jalan Ahmad Yani, Tanjung Pandan. Posisi rumah adat ini bersebelahan dengan rumah Kantor Bupati Belitung. Pemilihan lokasi ini dengan tujuan agar rumah tersebut dapat dilihat banyak orang, serta mengenalkan rumah adat ini kepada tamu dinas.

Saat liburan di Belitung pada Maret 2020 lalu, kami menyempatkan diri untuk mengunjunginya yang kebetulan lokasinya berdekatan dengan Hotel Green Tropical, tempat kami menginap.

Tidak ada tiket masuk untuk mengunjungi obyek wisata ini. Rumah Adat Belitung mulai dibangun tahun 2006, selesai dan diresmikan pada 10 Juni 2009 oleh Darmansyah Husein.

peresmian rumah adat belitung
Plakat peresmian Rumah Adat Belitung

Rumah adat yang menempati area seluas 500 meter persegi ini dulunya merupakan toko milik warga Tionghoa, lalu dibeli dan dibangun rumah adat seperti yang bisa dilihat sampai saat ini.

Lokasi rumah adat ini berada di sebelah kantor bupati Belitung

Rumah Adat ini dibangun memanjang dengan lima bagian yang mana semakin ke belakang bagian tersebut fungsinya semakin rendah, dari mulai teras untuk tamu hingga  rungan untuk pembantu atau penjaga.

Rumah adat ini menggunakan batu granit yang banyak ditemukan di Belitung sebagai pondasinya. Selain fondasi, semuanya terbuat dari kayu. Lantai menggunakan kayu ulin, tiang penyangga dari kayu nyatoh dan atap menggunakan kayu medang dan seru.

pondasi rumah adat belitung
Pondasi Rumah Adat Belitung yang menggunakan batu granit

Bagian Dalam

Untu memasuki bagian dalam rumah adat ini, pengunjung harus menaiki anak tangga terlebih dahulu. Setelah itu pengunjung akan disambut dengan gemericik kembang goyang yang saling bergesekan karena ditiup angin.

Kembang ini merupakan ornamen penyambut tamu, dahulu terbuat dari daun lais, tapi saat ini menggunakan besi tipis yang dibentuk serupa.

Perbedaan Rumah Adat Bangsawan dan Rakyat Biasa

Oh ya rumah adat yang kini menjadi destinasi wisata ini merupakan miniature rumah Panggong untuk seorang bangsawan. Perbedaannya dengan rumah penduduk biasa ialah lebih besar sehingga memiliki lima ruangan, sedangkan rakyat biasa hanya memiliki empat ruangan.

 Perbedaan lainnya adalah jumlah anak tangga. Di Belitung anak tangga harus berjumlah ganjil, untuk bangsawan lebih dari tiga anak tangga, namun untuk rakyat biasa hanya diperbolehkan memiliki tiga anak tangga.

Teras pada Rumah Panggong ini hanya diperkenankan untuk tamu laki – laki saja, sedangkan perempuan masuk langsung ke bagian tengah rumah atau bisa ke dapur.

Ruang kedua merupakan ruang utama, tempat dimana keluarga pemilik rumah beraktivitas. Salah satu ciri khas Rumah Adat di Belitung adalah tidak memiliki sekat – sekat kamar. Orang tua dan anak tidur bersama di ruangan tersebut menggunakan kasur tipis atau tikar.

Miniatur rumah adat ini juga berfungsi sebagai Museum Budaya Belitung. Pengunjung dapat melihat banyak foto – foto yang menjelaskan budaya Belitung.

Di rumah adat ini kamu juga bisa melihat pakaian pengantin khas Belitung. Kebaya panjang untuk perempuan dan pakaian kancing lima bertopi singing bagi laki – laki. Sayangnya tidak ada penyewaaan baju adat khas Belitung seperti yang ditawarkan di Minang Village atau Istana Pagaruyung dimana pengunjung selain melihat rumah adat juga berkesempatan untuk mengenakan pakaian adat. Mengenakan pakaian adat serta berfoto dengan rumah adat merupakan kombinasi yang pas. Mengapa tak ditiru konsep seperti ini ya?

Setelah ruang utama, pengunjung disambut dengan jembatan sepanjang tiga meter atau disebut loss. Bagian rumah yang ini merupakan tempat setiap anggota keluarga berkumpul bersantai sambil bercengkerama. Loss tersebut menghantarkan anda menuju ruang dapur.

Kalau ke Belitung kunjungi replika rumah adatnya ya!

Ruang paling belakang rumah ini ialah ruang untuk penjaga atau pembantu rumah. Ruang ini salah satunya yang membedakan bangsawan dengan rakyat biasa.

Leave a Reply