Batu Ratapan Angin, Tempat Asik Untuk Menyaksikan Keindahan Telaga Warna Dari Ketinggian

wisata batu ratapan angin

Batu Ratapan Angin lokasinya berada bersebelahan dengan obyek wisata Dieng Plateau Theater (DPT). Jadi setelah menyaksikan film dokumenter di DPT, jangan langsung beranjak dari sana. Lanjutkan langkah kaki anda ke Batu Ratapan Angin. Dijamin tidak membuat anda menyesal, justru anda akan menyesal jika sudah ke Dieng tapi tidak kesini.

Kami mengunjungi Batu Ratapan Angin di hari ketiga kami di Dieng. Di hari sebelumnya kami telah menggapai puncak Bukit Sikunir untuk menyaksikan matahari terbit. Kemudian turun dari Bukit Sikunir, kami melihat peninggalan warisan budaya Dieng di Kompleks Candi Arjuna.

Secara administratif obyek wisata Batu Pandang Ratapan Angin berada di wilayah Desa Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Wonosobo. Jika ditempuh dari pusat Kota Wonosobo, jarak tempuhnya adalah sekitar 27 kilometer dengan waktu tempuh kurang-lebih satu jam.

Dari homestay tempat kami tinggal, obyek wisata ini hanya berjarak sekitar 3 kilometer, yang bisa kami tempuh hanya dalam waktu 10 menit saja.

Baca juga : Review Homestay Puspa Indah Syariah Dieng

Segera setelah sarapan pagi di homestay, kami langsung bergegas menuju ke lokasi Batu Ratapan Angin. Kami ingin datang sepagi mungkin agar belum banyak pengunjung yang datang, sebelum wisatawan dari Bukit Sikunir turun  yang nantinya ikut meramaikan.

Dengan sepeda motor matic butut yang kami sewa ini, kami menuju kesana.

Rutenya mudah saja, tanpa bantuan aplikasi penunjuk jalan pun kita bisa sampai kesana. Plang penunjuk lokasi wisata di Kawasan Dataran Tinggi Dieng sudah cukup jelas bagi pengunjung siapapun orangnya.

Setelah melewati pintu masuk obyek wisata Telaga Warna, kami menjumpai simpang jalan. Jika ke kanan maka akan membawa kami ke lokasi wisata Kawah Sikidang, Museum Kailasa dan Candi Arjuna. Kami mengambil arah kiri dimana DPT dan Batu Ratapan Angin berada.

Setelah masuk ke jalan di sebelah kiri itu, menjelang sampai obyek wisata Dieng Plateau Theater, kami menemui pos retribusi. Dua orang petugas yang sedang berjaga memberhentikan laju kami. Kami diharuskan membayar parkir kendaraan sebesar Rp 3 ribu saja.

Setelah membayar retribusi dan mendapatkan secarik kertas parkir, kami melajukan lagi motor matic butut ini. Sial bagi kami, setelah pos retribusi tersebut ada tanjakan yang cukup terjal dan panjang. Sedalam apapun tuas gas yang saya tarik, motor matic butut ini tidak mampu untuk menaklukan tanjakan tersebut. Beruntung tidak ada kendaraan lain dari belakang.

Kami berhenti di tepi jalan. Hanny dan Fawwaz terpaksa untuk turun dari motor dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke area parkir. Kasihan sekali mereka.

Kami memarkirkan motor tepat di area parkir yang berada di depan bangunan Dieng Plateau Theater. Setelah itu kami lanjutkan berjalan ke titik Batu Pandang Ratapan Angin berada.

Tiket Masuk Batu Ratapan Angin

Bagi saya ini adalah kali keduanya mengunjungi Batu Ratapan Angin. Kunjungan pertama pada Desember 2013, ketika itu Kawasan ini belum ada pengelolanya. Tidak ada tiket masuk kala itu. Kini dengan telah terkelolanya Batu Ratapan Angin oleh kelompok pengelola wisata Batu Pandang Desa Jojogan, untuk masuk kesini dikenakan tiket masuk sebesar Rp 10 ribu.

Pos loket masuk kawasan Batu Ratapan Angin

Kelompok Pengelola Wisata Batu Pandang ini benar – benar mengelolanya Kawasan ini dengan baik. Tidak hanya sekedar memungut uang retribusi dari pengunjung yang datang, pemasukan dari uang retribusi tersebut dimanfaatkan untuk membangun fasilitas penunjang wisata seperti jalur trekking yang ramah bagi siapapun, taman – taman sederhana namun terlihat cantik menarik. Serta fasilitas seperti toilet dan mushala.

Setelah membayar uang retribusi, kami melanjutkan langkah. Langkah yang mudah karena trek sudah disusun sedemikian rupa seperti tangga. Di kanan kiri jalur trekking tersebut merupakan ladang kentang, tidak ada tanah kosong yang tersisa, semuanya ditanami kentang!

Jalur trekking yang sangat mudah, dikanan kirinya ditumbuhi tanaman kentang

Obyek wisata ini dinamakan Batu Ratapan Angin karena tempat ini berupa bukit yang dipenuhi  oleh batu – batu berukuran raksasa yang juga dikelilingi oleh pepohonan dan semak belukar. Saat angin kencang bertiup disini terdengar bunyi yang mirip siulan ratapan. Inilah yang menjadi alasan tempat ini disebut Batu Ratapan Angin.

Di Batu Ratapan Angin ada satu spot favorit bagi wisatawan yaitu sebuah batu besar yang menancap di sisi dimana pengunjung bisa menyaksikan Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Kami tidak ingin melewatkan untuk mengambil foto disini. Karena tempat ini adalah yang paling favorit, sehingga kalau mau foto disini kita harus antri.

Batu yang menjadi spot favorit disana

Untungnya kami datang lebih awal, jadi hanya menunggu satu orang saja.

Selain spot ini, terdapat beberapa spot foto lainnya yang menjual view yang sama. Namun untuk berfoto di spot tersebut di kenakan biaya tambahan, mulai dari Rp 5 ribu per orangnya. Pengelola spot tersebut akan membantu anda mengambil foto terbaik untuk pengunjung.

Untuk spot foto berbayar ini yang paling menarik ialah yang berbentuk balon udara serta ayunan. Sayang, spot ayunan waktu itu pengelolanya belum ada.

Pemasangan nama obyek wisata dengan ukuran gigantic sepertinya telah menjadi ciri khas destinasi wisata yang ada di Indonesia akhir – akhir ini. Begitu pun dengan Batu Ratapan Angin, terdapat tulisan gigantic tersebut. Dan banyak juga wisatawan yang berfoto disini. Sepertinya foto di tempat seperti ini sudah menjadi kewajiban bagi wisatawan, semacam pertanda kalau “aku sudah sampai disini, bagaimana dengan anda?”

Di balik tulisan Batu Ratapan Angin berukuran gigantic itu, masih ada jalur trekking ke tempat yang lebih tinggi lagi.

Hanny dan Fawwaz memilih untuk tidak melanjutkan trekking dan menunggu saya disini. Saya pun mengayunkan langkah melewati jalur menanjak yang ada di balik batu besar. Ternyata masih ada spot foto berupa jembatan yang terbuat dari bambu, terdapat juga saung yang menjual aneka minuman dan makanan ringan.

Ujung Kawasan Batu Ratapan Angin adalah batu berukuran sangat – sangat raksasa. Besar sekali sehingga membentuk sebuah bukit kecil. Batu raksasa ini juga ada yang memanfaatkannya untuk dijadikan sebagai spot foto. Tapi saat itu pintu masuknya masih terkunci.

Karena tidak ada lagi yang menarik di hati, saya kembali menemui anak dan istri yang ternyata sedang asik bermain bunga daisy yang banyak tumbuh di sekitar sana.

Bunga Daisy
Ini buat eyah

Hari semakin terang, pengunjung mulai ramai berdatangan ke lokasi. Meski hari sudah menghangat namun sebagian besar pengunjung masih mengenakan jaket tebalnya, mungkin mereka baru saja turun dari Bukit Sikunir untuk menyaksikan matahari terbit.

Pengunjung semakin ramai berdatangan

Puas mengeksplore Batu Ratapan Angin, kami turun kembali ke area parkir. Selanjutnya kami akan menyaksikan film documenter mengenai Dataran Tinggi Dieng di Dieng Plateau Theater.

Tips Mengunjungi Batu Ratapan Angin

Karena menawarkan pemandangan yang indah, menarik serta kece untuk dipamer di media sosial. Menjadikan obyek wisata yang satu ini selalu dipenuhi oleh pengunjung. Jadi kalau mau kesini sebaiknya datanglah pada pagi hari. Karena waktu tersebut pengunjung masih belum ramai, jadi gag perlu antri di spot – spot terbaiknya.

Selain itu, di pagi hari cuaca cenderung cerah, kabut belum menutupi pemandangan sehingga anda bisa berfoto dengan latar Telaga Warna dan Pengilon yang begitu jelas.

You may also like...

(1) Comment

  1. Bukit Sikunir Dieng, Mendaki Manja Untuk Mengejar Matahari – Triptofun

    […] Baca juga : Batu Ratapan Angin, Tempat Asik untuk melihat Telaga Warna […]

Comments are closed.