Jalan – jalan ke Penang 16 : Ada Mee Jawa, Mee Sotong, Es Cendol di Esplanade Park Food Court Penang

esplanade park food court penang

Usai menyantap sarapan pagi di Restoran Ros Mutiara, kami kembali ke Hotel Grand Swiss dengan menggunakan Rapid Penang.

Tiba di hotel, kami langsung berkemas dan memastikan tidak ada satu pun barang kami yang tertinggal disini. Karena saat itu juga kami akan check out.

Baca juga : Sarapan di Restoran Ros Mutiara, Little India Penang

Tepat pukul 10.00 waktu Malaysia, kami meninggalkan hotel yang telah menjadi “rumah” sementara selama 4 malam di Penang.

Sementara itu uncle driver GrabCar yang kami pesan sudah menunggu di halaman hotel.

Baru saja kami naik ke mobil, uncle driver langsung menawari kami untuk mengunjungi kafe

“sudah sarapan kah?” tanya si uncle

“sudah” jawab saya singkat

“kalau belum ada kafe bagus buat sarapan” tawarnya lagi

Di kantung kursi mobil uncle ini tersedia menu dari kafe yang dilaminating dengan rapi, sepertinya si uncle ini selain menjadi driver juga merangkap sebagai sales kafe yang tentunya mendapatkan fee apabila ia berhasil membawa penumpangnya ke kafe tersebut. Ya mirip – mirip dengan tukang becak di Jogja lah. Yang mengajak wisatawan ke pabrik bakpia dengan ongkos murah.

“langsung saja ke Lam Wah Ee, Uncle” pinta saya

Lam Wah Ee adalah nama rumah sakit yang cukup ternama di Penang. Banyak orang Indonesia yang datang berobat kesini. Tujuan kami kesana adalah untuk menanyakan perihal biaya untuk operasi batu empedu yang diderita oleh Ibu mertua.

Sesampainya di Lam Wah Ee kami langsung didatangi oleh seorang ibu paruh baya yang menawarkan apartemennya untuk disewa.

Ya, karena banyak orang Indonesia yang datang untuk berobat kesini, menciptakan peluang usaha bagi warga di sekitar rumah sakit yaitu menyediakan rumah atau apartemen untuk disewa keluarga pasien.

“pegang saja dahulu, mungkin lain waktu perlu, boleh hubungi saya” kata ibu itu sembari memberikan kartu namanya

Setelah mendapatkan informasi dari petugas Lam Wah Ee, kami pun bergegas meninggalkan rumah sakit yang memiliki bangunan berwarna krem ini.

Keluar dari rumah sakit, saya kembali mendapatkan tawaran apartemen untuk di sewa. Ada beberapa orang yang duduk di tepi trotoar menawarkan jasa ini.

Menuju Esplanade Park Food Court

Kami berteduh dari teriknya matahari Pulau Pinang di teras bank. Saya segera memesan GrabCar, dalam sekejap saya sudah menemukan driver yang bersedia menjemput kami. Namanya uncle Ooi Ah Lye, dari namanya sudah bisa ditebak ia dari etnis apa.

 

Saat menunggu uncle Ooi menjemput kami. Datang seorang yang mengendarai sedan tua berwarna hitam, ia mendekati kami.

“Assalamualaikum, nak ke Museum Cokelat? murah je, Cuma RM 5” kata orang itu sembari menyodorkan brosur museum yang bertemakan cokelat

“Maaf kami sudah mendapatkan jemputan” jawab saya

“oh tak ape, bawalah brosur ini, mungkin lain kali perlu” dan ia pun berlalu, entah kemana.

Tak lama kemudian, uncle Ooi tiba. Ternyata mobil yang ia bawa adalah taksi. Saya tak ingat, apa merek taksinya, yang jelas mobilnya masih baru pun halnya dengan interiornya yang amat nyaman. Full AC, tanpa bau rokok, dilengkapi dengan kamera depan dan maps. Uncle Ooi pun berpenampilan menarik, rambutnya disisir klimis, menggunakan kacamata hitam untuk mengurangi silaunya matahari.

Meski taksi ini begitu nyaman, namun ada satu persoalan yaitu kendala bahasa. Kami kurang mengerti saat uncle Ooi berbicara, sebab ia menggunakan bahasa separuh Melayu, separuh Mandarin. Jadinya perjalanan menuju Esplanade Park Food Court ini begitu sunyi dari percakapan. Hanya suara intruksi dari google maps saja yang terdengar.

Akhirnya kami pun tiba di lokasi.

Esplanade Park Food Court ini lokasinya bersebelahan dengan obyek wisata bersejarah di Pulau Pinang yaitu Fort Cornwallis.

Memasuki area Esplanade Park Food Court terdapat banyak sekali penyedia berbagai makanan dan minuman di sisi kiri dan kanan, sementara di bagian tengah merupakan tempat duduk bagi pengunjung.

 

Banyak sekali pilihan makanan disini ada khas Melayu, India, Cina, bahkan Indonesia. Rasanya ingin mencoba semuanya, tapi kan gag mungkin. Jadi harus ada yang dipilih salah satunya, atau kalau mampu lebih dari itu.

Tersedia berbagai variasi makanan

 

Hameed ‘Pata’ Mee Sotong

Saya berputar mengelilingi area food court ini dan saya pun memilih Mee Sotong di tenant Hameed ‘Pata’. Penjualnya adalah keturunan India, dan menu ini merupakan salah satu favorit disini. Bisa dilihat dari antrian pembelinya.

Antrian pembeli Mee Sotong

Mie yang digunakan adalah mie kuning tebal. Dalam pembuatannya, mie dimasak dalam jumlah sekitar 8 – 10 porsi sekaligus. Jadi ga bisa request rasa pedas, sedang atau tidak pedas.

Setelah mie dimasak, kemudian mie tersebut diguyur dengan kuah kental berwarna merah yang berisikan potongan sotong. Harga Mee Sotong ini adalah RM 5 (sekitar Rp 17.500)

mee sotong hameed pata
Seporsi Mee Sotong ala Hameed Pata

Perlu 10 menit untuk menunggu seporsi mee sotong ini, tapi ini waktu yang bisa dikatakan sebentar, sebab di hari libur waktu antrinya bisa lebih dari 30 menit.

 

Es Penang Famous Jalil

Di sebelah tenant Hameed ‘Pata’, ada tenant Penang Famous Jalil yang juga dikelola oleh keturunan India. Yang dijual oleh tenant ini adalah minuman.

Penang Famous Jalil

 

Salah satu minuman yang menjadi favorit disini adalah Coconut Shake, harganya RM 4. Kalau ditambah satu scoop es krim jadi RM 4.5 (sekitar Rp 15.750). Saya pun memesan minuman ini.

Cara membuat Coconut Shake mudah sekali, air kelapa muda diblender bersamaan dengan daging kelapa serta es yang telah diserut. Untuk menambah rasa diberi tambahan krimer kental manis.

Coconut Shake

Selain coconut shake, saya juga memesan Es Cendol yang dibanderol dengan harga RM 3.5 (sekitar Rp 12.250). Dari berbagai cerita yang saya baca, katanya es cendol di Penang memiliki rasa yang kurang manis dibandingkan dengan es cendol di Indonesia.

Es cendol Penang, di dalamnya juga terdapat kacang merah. Rasanya tidak begitu manis dibanding cendol Indonesia

Setelah mendapatkan semua pesanan, saatnya untuk mencicipinya satu per satu.

Mee Sotong, rasanya seperti Mie Aceh goreng, bedanya ada tambahan potongan sotong. Kuah kental berwarna merah yang menjadi topping hidangan ini membuat cita rasanya cenderung pedas. Yang menjadi kekurang dari mee sotong ini adalah masih tercium amis dari sotong.

Pedasnya Mee Sotong terselamatkan oleh Coconut Shake yang dingin dan manis. Daging kelapa yang menyatu dengan air kelapa membuat minuman ini terasa begitu nikmat.

Puas sekali makan siang terakhir di Pulau Penang ini.

Baca juga : Makan Malam di Restoran Hameediyah

Usai makan siang, kami pun menuju Bandara Internasional Penang Bayan Lepas. Jam 17.45 waktu Malaysia nanti kami akan kembali ke Jakarta.

Waktu cepat sekali berlalu, tak terasa sudah lima hari kami berada di Pulau Pinang. Menjelajahi berbagai obyek wisata serta mencicipi ragam kulinernya. Akhirnya kami harus kembali. Dan cerita jalan – jalan ke Penang dalam rangka mengisi libur lebaran 1440 H ini selesai.

You may also like...

(1) Comment

  1. Lawan Dahaga di Penang Dengan Ais Tingkap Window Sherbet – Triptofun

    […] Baca juga : Makan Siang di Esplanade Park Food Court Penang. Ada Mee Jawa, Mee Sotong dan Aneka Minuman Segar […]

Comments are closed.